Walikota Malang Sutiaji Apresiasi Festival Keramik Dinoyo Yang Kental Nuansa Edukasi

MALANG PROKOTA.Com – Wali Kota Malang, Drs. H. Sutiaji mengapresiasi konsep kegiatan edukatif yang dipilih dalam Festival Keramik Dinoyo #4 kali ini. Menurutnya, aktivitas luar ruang yang digagas bermakna positif dalam berbagai perspektif.

“Inshaallaah ini tidak hanya menguatkan daya tarik wisata, tapi juga mendukung tumbuh kembang anak-anak agar tidak hanya bermain gadget dan tentunya jadi salah satu penopang Kota Malang Ramah Anak”, terang pria penyuka olahraga bulutangkis ini.

Kedepan, ia meminta Dinas Pemuda, Pariwisata dan Olahraga (Disporapar) bersama jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Malang bisa terus menjalin sinergi hexahelix yang makin apik untuk membangkitkan pariwisata dan ekonomi daerah secara keseluruhan setelah terpaan badai pandemi.

Nampak belasan anak terlihat asyik mengolah tanah dan bahan keramik dengan beralaskan terpal yang digelar di halaman Area eks Pabrik Keramik Dinoyo. Sesekali, beberapa remaja karang taruna berkaus biru menghampiri mereka untuk membantu membentuk apapun bentuk yang anak-anak pikirkan. Aktivitas edukasi kerajinan tersebut menjadi bagian dari Festival Keramik Dinoyo Keempat yang digelar secara virtual, kemarin (16/10/21).

Edi, salah satu perajin sekaligus wakil ketua pokdarwis kampung keramik mengakui bahwa ditengah pandemi dibutuhkan terobosan untuk mempertahankan omzet perajin dan pedagang yang acap menurun. Pemasaran online diakuinya sangat potensial menjadi skema alternatif yang belum dieksplorasi secara optimal. Ia berharap gap literasi digital bisa dijembatani oleh remaja-remaja karang taruna, pendampingan dari perguruan tinggi di Kota Malang dan kreasi festival-festival yang bisa mengenalkan potensi keramik dinoyo.

Festival Keramik kali ini memang berbeda dengan gelaran-gelaran sebelumnya yang bisa diikuti puluhan bahkan ratusan peserta. Pandemi yang belum sepenuhnya usai, mendorong Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Karang Taruna Kampung Keramik Dinoyo melakukan penyesuaian skema dan batasan peserta. Virtual Event yang dirancang secara kolaboratif bersama forum komunikasi (forkom) kampung tematik Kota Malang menjadi pilihan skema kali ini tanpa mengurangi substansi festival.

Sebelum praktek langsung di museum keramik Dinoyo anak anak dibawa terlebih dahulu berkeliling ke sentra sentra pembuatan keramik di Dinoyo. Dengan cara ini diharapkan anak anak memiliki gambaran yang nyata bagaimana keramik dibuat.

Anak peserta pembuatan keramik, Azaria Fahmi Ramadan mengaku senang bisa bermain belajar membuat keramik. Kegiatan membuat kerajinan dari keramik ini disela sela sekolah yang sedang libur. “Meski capek senang juga belajar membuat keramik. Saya baru tahu hari ini kalau keramik dibuat dari tanah liat,” terang Fahmi.

Uniknya lagi, festival keramik kali ini turut disemarakkan dengan kehadiran sejumlah siswa-siswi kelas 10 dan 11 dari Sekolah Hwa Ing beserta guru pendampingnya yang sedang menggarap proyek pembelajaran budaya Pelangi Bangsaku.

“Menarik, kebetulan aku gemar melukis dan rasanya beda dengan melukis di media lain”, ungkap lili, salah satu siswa yang mengikuti program tersebut.

Berbaur dengan anak-anak kampung dinoyo, mereka berlatih mewarnai keramik dengan beragam pola dan warna. Siang itu, tidak ada sekat di ruang usang eks pabrik dinoyo yang sedikit berdebu. Hanya ada wajah-wajah ceria anak-anak Indonesia, semuanya asyik mewarnai keramik demi keramik. (pan/riz/hms)