Safari Subuh Walikota Sutiaji di Masjid Nasrudin Ki Ageng Gribig

Di Posting : 22 Oktober 2021
Penulis : Ilyasi
Kategori :
Bagikan :
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Foto : Prokota.com

MALANG PROKOTA.Com – “Berduet” dengan Gus Syaichur Rizal Pengasuh Ponpes An nur bululawang, Walikota Malang Sutiaji meneruskan tradisi sapa jamaah subuh dari masjid ke masjid. Kali ini safari subuh berlokasi di masjid Nasrudin Jl. Raya Ki Ageng Gribig Kedungkandang (22/10 ’21).

Pada safari subuh tersebut, Ustadz Sutiaji demikian Walikota Malang akrab disapa, juga menyempatkan diri melihat program urban farming sekaligus memanen (memetik) sayur terong.

“Ini bagus, warga memanfaatkan secara optimal lahan yang terbatas dan baiknya lagi juga tumbuh secara produktif,” apresiasi Walikota Malang yang didampingi Camat Kedungkandang, Kabag Kesra, Kabag Humas, Kadiskominfo dan Lurah Kedungkandang serta pengurus Baznas kota Malang.

Sementara itu Gus Rizal, dalam tausiyah menyampaikan penyakit bangsa saat ini adalah ghibah / menggunjingkan orang lain.

“Tidak ada dalam tuntunan Islam itu untuk menghujat pimpinan. Bahkan seburuk apa pun seorang pimpinan. Sifatnya mengingatkan dengan santun, penuh rahman rahiim. Negara tidak akan bisa berdiri jejeg (tegak) jika pemimpin terus menerus dihujat seakan kebenaran hanya milik kelompok itu sendiri,” utara Gus Rizal.

Luwik apik nggak usah ndelok berita yg negatif. Karena Seburuk buruknya perilaku adalah ghibah, menjelek jelekkan orang lain. Imbuh pengasuh Ponpes An Nur Bululawang tersebut.

Adapun, Pak Aji, dalam pesan subuhnya mengajak jamaah dan warga kota Malang untuk menjaga serta mensyukuri hidup yang diberikan, sehat dan kelakuan yang baik. Urusan negara akan selesai jika penduduk bumi iman dan taqwa.  Jadikan masjid jadi pusat penguatan moral (iman taqwa). Pesan pria penghobby bulu tangkis tersebut.

Ditambahkan alumni IAIN Malang tersebut, bahwa firman Allah nyata adanya dan terbukti. Satu diantaranya saat mengkaji pernyataan pada hari akhir nanti mulut mulut akan dikunci / ditutup, yang akan berbicara adalah tangan tangan kita (sebagai saksi). “Tidak perlu menunggu hari akhir, fenomena itu sudah terlihat saat ini. Untuk membicarakan orang lain, ghibah tidak lagi dengan mulut tapi cukup jari jemari kita yang menulis kata kata pada sosial media dan itu terus melekat serta begitu teralir sulit untuk menetralisirnya. Maka benar kata Gus Rizal, betapa bahayanya ghibah, fitnah, ujaran kebencian serta kata kata yg tidak baik bila sudah terviralkan,” ingat ustadz Sutiaji.

Safari subuh Walikota Malang, juga dijadikan forum mendengarkan aspirasi warga, sekaligus menguatkan sosialisasi Gerbu (Gerakan Seribu) per hari. (sfr/riz/hms)

Di Posting : 22 Oktober 2021

Berita Serupa

Politik
Bisnis
Olah Raga