Dirugikan Proyek Drainase diduga Asal -Asalan, Warga Gribig Gg 5 Wadul, DPRD Siap panggil DPUPR-kontraktor

Di Posting : 15 September 2021
Penulis : Ilyasi
Kategori :
Bagikan :
Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Foto : Prokota.com

MALANG PROKOTA.Com – “Iya warga gribig gg 5 kemarin mengadukan telah dirugikan proyek drainase, korbannya mulai mobil terjeblos drainase yang dinilai asal- asalan sampek ada trauma anak 7 tahun, kemudian mengeluhnya umkm jualan lpg gak bisa kirim kepelanggan karena armada truk tak bisa masuk, akhirnya harus rogoh kocek sewa tempat diluar kampung dengan harga mencekik tiap minggu Rp 450 ribu, mereka inginkan jalan ditata ulang gak makan korban,” ungkap M Fuad Fraksi PKS DPRD kota Malang lewat selulernya Rabu sore 15/9.

Lanjut politisi FPKS yang beri penjelasan pada awak media disela-sela perjalanan darat kunker ke Badung Bali itu berjanji akan panggil DPUPR dan kontraktor penggarap proyek drainase di Ki Ageng Gribig gang 5 kelurahan Madyopuro kecamatan kedungkandang.

“Setelah saya cross check ke TKP yang gang 5 kemarin memang sekilas cukup beralasan bila proyek itu rugikan warga setempat terutama mereka yang punya kendaraan roda 4, karena jalan satusatunya menuju kesana,saya terus membawa ke komisi C, komisi saya yang menangani ekonomi pembangunan, minggu depan DPUPR kami panggil untuk cari win win solusion agar warga nyaman dan aman,” ucapnya berharap.

Mungkin sudah tak kuat menahan diri,sehingga warga ki Ageng Gribig Gg 5 kelurahan Madyopuro laporkan Rekanan dan DPUPR ke Fraksi PKS DPRD Kota Malang agar tuntutan mereka segera direspon.tetutana dua – Tiga korban proyek Drainase yang dituding asal- asalan,

“Melintasi TKP itu saya sebenarnya ragu soalnya tanah tengah ini di bawahnya sudah ada apa, belum gitu karena saya juga enggak tahu kan waktu itu pas kebetulan di depan saya juga ada motor ingin salipan sama saya berhubung saya enggak bisa lurus enggak bisa langsung lurus kan karena kalau saya lurus akan senggolan dan menabrak pengendara sepeda karena jalanan kampung menjadi sempit.

“Jadi saya agak miring ke kiri sedikit. Nah begitu saya miring ke kiri begitu ban depan saya mulai melintasi di TKP itu langsung terpelosok semua. Pas dengan kondisi miring pas anak saya di belakang lagi makan. benturan pada kepala sempat teriak, pokoknya kaget ya keluarga saya, mengalami trauma psikis dengan kejadian itu dia agak sedikit takut naik mobil. ungkap sebut saja Ali ,warga perumahan di ujung timur gang 5 gribig itu geram saat crita didepanwakil rakyat tersebut.

Lanjut pria berputra dua yang meminta penggarap proyek pemerintah dari uang rakyat tersebut meminta keadilan dan klarifikasi kepada pihak-pihak lain dalam hal ini mungkin kontraktor pelaksana.

“Saya ingin pertanggungjawaban laki-laki dengan kejadian ini sehingga saya meminta ini tidak menimpa warga lain cukup saya menjadi korban terakhir dan ini menjadi evaluasi bersama ke depannya bahwa pengerjaan ini pun belum dikatakan finish seratus persen.dan harus diulang mulai nol hingga tak makan korban berikutnya.” tandasnya tegas.

“Tapi ini kan masih ada masa transisi, dia ada jeda katanya alasannya bahan bakunya. Bahan bakunya itu kan habis dan lain sebagainya. Saya enggak ngerti kasak kusut apa di belakang mereka semua. Yang jelas saya cuman minta selama masa transisi ini sambil menunggu infrastruktur atau sarana yang mana bisa memperhatikan keselamatan warga.

Jubir warga Gribig Gg 5 Farhan Sugiarto menambahkan karena bagaimanapun juga ini akses utama mobile, jadi selama masa tunggu ini masa transisi ini dia wajib menyediakan prasarana dan tidak mengabaikan aspek keselamatan warga.

Dalam hal ini yang bersangkutan dalam hal ini pihak kontraktor. Diduga mengabaikan hal itu. Mengabaikan ke aspek keselamatan warga ini sangat diabaikan sekali.” ucapnya.

Hal yang juga dilaporkan Imam, agen LPG dampak proyek dari negatifnya yaitu kan saya usaha kecil, usaha kecil itu kayak setiap kali LPG gudangnya ada di rumah, dipegang lima terus ada proyek gorong-gorong ini selama kurang lebih dua minggu. Tapi kenyataannya ini cuman berjalan satu minggu. Terus habis itu box kalvernya itu habis. Lah kita ini sebagai usaha kecil Gak bisa dilewati sama truk sama transportasi umum.

“Jadi kita menyewa tempat di pinggir jalan raya. Itu sewa tempatnya. Empat ratus lima puluh per minggu. Bukan per bulan loh ya. Per minggu. Lah monggo kalo eh semisal masih kurang percaya monggo ke rumahnya yang punya kontrak.

saya dirugian secara ekonomi, Ya secara kerugian ya memang rugi pak, memang rugi, Enggak ada keuntungan sama sekali malahan. Ini ya memang rugi kalau kita enggak kerja terus tambah lebih rugi gitu loh, ditambah ada anak jecil kejeglong waat spedahan,untung tak papa,cuma trauma,makanya kami mengadu pada mereka,” tandasnya. (dr/agys/han)

Di Posting : 15 September 2021

Berita Serupa

Politik
Bisnis
Olah Raga