Wasekjend DPP MUI: Residu dan Sampah Hoaks di Dunia Maya Butuh Kecerdasan Memfilternya

Kategori :
Penulis : Doddi Risky
Bagikan :
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on print

Foto : Prokota.com

MALANG PROKOTA.Com – “Fitnah ada sejak zaman Rosululloh, ada fitnah istri Rosul berselingkuhan. Padahal itu bohong,” kata Ketua Yayasan Annur 1 dan Wakil Sekjen DPP MUI, Dr KH. Ahmad Fahrur Rozi Burhan. Pernyataan ini disampaikan dalam kelas literasi digital Tular Nalar yang diselenggarakan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Wilayah Malang di Pondok Pesantren Annur 1 Bululawang Malang pada Ahad, 25 April 2021.

Setiap hari kita akrab dengan sosial media. Namun, banyak residu dan sampah berupa hoaks yang kelindan di dunia maya. Sehingga dibutuhkan kecerdasan untuk memfilternya. Agar tak ada fitnah karena hoaks.

Kiai Fahrur menjelaskan atas kabar bohong itu Allah, SWT menurunkan wahyu surah an-Nuur ayat 11-20. Inilah firman-Nya yang membebaskan Aisyah dari segala tuduhan dan fitnah keji. Rosululloh, katanya, juga melarang orang berghibah atau menggunjing. Berita sampah, katanya, Rosul meminta bagi orang mukmin tak boleh mudah percaya, tapi harus dibuktikan.

Kiai Fahrur juga menjelaskan surah Al Hujurat ayat enam yang artinya, “wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

“Sekarang ada teknologi yang bisa mengubah gambar bahkan video demi kepentingan tertentu,” katanya.

Kiai Fahrur Rozi juga menyebutkan Sayyidina Umar bin Kattab yang dibunuh saat menjadi imam salat subuh. Pembunuhan terjadi karena kabar bohong. Kejadian ini, katanya, bisa terjadi kapanpun.

“Meski berita benar jika berpotensi kerusuhan maka tak boleh disebarkan. Tak semua yang kita dengar boleh disampaikan,” katanya.

Kiai Fahrur Rozi menyambut baik workshop untuk memerangi hoaks atau berita bohong. Termasuk mengenai vaksin Covid-19 dari babi, katanya, padahal ia telah memverifikasi dan kabar itu tidak benar. “Kemudian digoreng vaksin mengandung babi. Padahal, keputusan konferensi fiqih yang dihadiri 75 ahli fiqih dunia di Jedah memutuskan vaksin itu suci.

“Kami dianggap membela pemerintah. Padahal ini kedaruratan,” katanya.

Total sebanyak 80-an guru mengikuti kelas literasi digital. Kelas literasi digital diselenggarakan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) Wilayah Malang. Koordinator Wilayah Mafindo Malang, Anandito Birowo menjelaskan Tular Nalar batch 4 diikuti sekitar 80-an peserta.

Dilangsungkan secara daring dan luring. Secara luring dilangsungkan di Pondok Pesantren Annur 1 yang diikuti guru MTs Annur dan SMK Unggulan Annur. “Sedangkan peserta daring diikuti sejumlah guru di Malang Raya,” katanya.

Tular Nalar dilangsungkan dalam empat batch. Batch 1 diikuti 51 guru, Batch 2 sebanyak 78 orang. Sedangkan Batch 3 diikuti 93 orang. Selain guru juga diikuti mahasiswa dan umum. Tular Nalar, katanya, merupakan kelas online digital literasi yang diterapkan Mafindo. Program menyasar guru SMP dan SMA.

Materi dan kurikulum pelatihan dikembangkan tim kurikulum Mafindo. Para peserta diharapkan menerapkan materi yang disediakan di tularnalar.id untuk pengetahuan dalam pembelajaran mara pelajaran yang diampu di sekolah. “Menentukan tema, menentukan kompetensi, dan bisa diadaptasi dalam RPP (Rencana Pelaksanaan Pendidikan),” kata Anandito.

Kelas Online Literasi Digital Tular Nalar Batch 4 dipandu dua relawan Mafinfo Malang sebagai fasilitator. Meliputi dosen Teknologi Informasi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Linda Salma yang tengah menempuh pendidikan doktoral di Jerman dan dosen Universitas Tribhuana Tunggadewi, Fathul Qorib.

Fathul menjelaskan Tular nalar mengembangkan kurikulum dengan tiga aspek yakni tahu, tanggap dan tangguh. Tahu artinya tahu mengembangkan diri dalam literasi digital, tanggap dengan merespon dan menjawab isu terkait dunia literasi digital dan tangguh berkolaborasi dan merangkul semua kalangan berpartisipasi merespon situasi.

Materi terdiri atas pendidikan daring, berdaya internet, internet dan ruang kelas, internet dan kesehatan, menjadi warga digital, internet dan keluarga, internet damai, internet dan siaga bencana dan internet merangkul sesama. “Semua materi tersedia di Tularnalar.id, juga tersedia beragam media ajar yang interaktif,” kata Fathul.

Sementara Linda Salma mengingatkan bahaya hoaks yang berkelindan di dunia maya. Tak hanya menyebabkan misleading atau menyesatkan. Namun, bisa berdampak buruk seperti konflik SARA, kekerasan fisik hingga menyebabkan korban jiwa. “Akses internet yang cepat tapi tak diimbangi literasi digital,” kata Linda. (ek/riz/hms)

Di Posting : 9 months Yang Lalu

Berita Serupa

Politik
Bisnis
Olah Raga