Ekonomi Lagi Terpuruk Dampak Pandemi COVID-19, Pengusaha di Kota Malang Minta Pembebasan Pajak Setahun

Kategori : ,
Penulis : Doddi Risky
Bagikan :
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on print

MALANG PROKOTA COM – Pandemi covid 19 telah memasuki babak baru. Sebab pemerintah pusat akhirnya memutuskan untuk memulai satu fase baru yang disebut sebagai New Normal Life.

Walaupun belum jelas mekanisme dalam menjalankan program baru ini namun hal ini bisa sedikit membawa harapan untuk sektor ekonomi berjalan kembali setelah penetapan PSBB.

Sama seperti wilayah lain yang mulai lepas dari PSBB, pergerakan ekonomi di Kota Malang juga mulai berjalan seperti semula.

Melihat dari dampak kasus covid 19 maka sektor yang paling terpukul adalah sektor  Pariwisata, restoran dan perhotelan, mengutip penyampaian Ridwan Hisyam saat buka bersama dengan media (18/05/2020) yang lalu menyampaikan bahwa sektor yang sangat potensial untuk dihidupkan dengan cepat pada new normal ini adalah sektor pariwisata.

Disisi lain pemerintah diharapkan juga mampu membantu pengusaha dalam bidang itu untuk bisa mendapat suntikan anggaran serta kelonggaran pajak sehingga mereka dapat kembali menjalankan usahanya.

Fakta di lapangan ada beberapa pengusaha hotel dan restoran yang ada di Kota Malang bahkan Owner sebuah cafe di Bumi arema ini coba blak-blakan dengan awak media terkait susahnya bertahan di tengah pandemi lantaran sepinya pengunjung.

Tak dipungkiri, Kota Malang secara demografi adalah wilayah yang tidak memiliki kawasan wisata alam seperti Kabupaten Malang dan Batu.

Kota Malang adalah daerah transit untuk wisatawan akan menuju ke kabupaten atau Kota Batu maka dari itu potensi pariwisata Kota Malang terletak di layanan pusat perbelanjaan, cafe dan hotel.

Sejak pandemi COVID 19, sektor ini nyaris mati karena tidak ada perputaran ekonomi sama sekali. Bahkan ada usaha yang harus gulung tikar karena kebijakan pemerintah menutup aktifitas ekonomi sejak Maret lalu.

“Pendapatan Asli Daerah dari sektor ini bagi pemerintah Kota Malang cukup besar tapi untuk bisa bangkit dari keterpurukan dan memulai kembali menjalankan usaha kami membutuhkan kebijakan dari pemerintah daerah terutama terkait pengurangan pajak minimal untuk 1 tahun ke depan karena ada dilematika yang kami alami terkait biaya operasional,” pinta salah satu pengusaha yang enggan disebutkan kepada PROKOTA.COM.

Seperti usaha saya yang bekerjasama dengan perusahaan aplikasi online, selama masa pandemi mereka tidak memperbolehkan perusahaannya untuk tutup padahal tamu tidak ada. Namun dengan kondisi itu maka secara otomatis biaya operasional tetap berjalan dan nominalnya tidak kecil sementara kebijakan dari pemda untuk usaha yang tetap buka hanya mendapat potongan pajak sebesar 50 persen.

“Kalau secara pribadi mungkin juga yang dirasakan oleh teman-teman yang bergerak di bidang yang sama hal ini pastinya sangat berat karena kami masih harus nombok biaya operasional plus pajak,,” kata dia.

“Kalau dimungkinkan untuk pemerintah daerah mendorong sektor ini segera mungkin pulih dan menghasilkan PAD bagi kota Malang maka berikan waktu untuk pembebasan pajak minimal 1 tahun hingga usaha kami bisa berjalan normal kembali,” bebernya.

Sementara itu perlu diketahui vahwa selama masa Pandemi COVID -19 Pendapatan asli daerah (PAD) Kota Malang turun 20,78 persen yang berlangsung beberapa bulan terakhir tahun 2020 ini.

Sementara itu, Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan meski mengalami penurunan, masih relatif lebih baik dari asumsi yang diperkirakan di awal pandemi COVID-19 sejak Maret lalu. Saat itu, PAD diperkirakan bakal turun hingga 50 persen.

“Saya kira itu harus kita letakkan pada perspektif optimistis, khususnya memasuki masa-masa adatif bersama COVID-19,” kata Sutiaji dalam rapat koordinasi bersama pimpinan perangkat daerah setempat di ruang sidang Balai Kota Malang, Jawa Timur.

Sutiaji mengungkapkan pemkot harus memutar roda ekonomi dan membangun pola kehidupan baru, yakni menyelaraskan langkah upaya memutus mata rantai covid dengan upaya-upaya menggerakkan simpul-simpul ekonomi yang ada di Kota Malang.

Ada dua sektor menurut dia bahwa yang bertahan dan menunjukkan tren positif selama masa pandemi COVID-19, yakni sektor perdagangan daring (e-commerce) dan produk makanan segar karena ada kenaikan permintaan dan transaksi tidak kurang dari 1.23 persen.

Mengakselerasi masa transisi dan masa adaptif COVID-19, kepada perangkat daerahnya, Sutiaji yang alumnus IAIN Malang yang juga pernah menggeluti bisnis shutle cock tersebut, menekankan agar mulai menggerakkan program kegiatan yang melibatkan partisipasi publik.

“Pada saat ini kita sudah tidak lagi jaga jarak sosial, yang kita tekankan adalah jaga jarak fisik, sehingga OPD jangan gamang apabila menggelar kegiatan yang melibatkan berbagai elemen, seperti gelar produk UMKM dan atau giat lain yang mampu menstimulus ekonomi daerah,” tegasnya.

Namun, lanjutnya, tetap dipedomani secara ketat dan penuh kedisiplinan prinsip-prinsip dasar protokol COVID-19, yakni harus menggunakan masker, dilakukan pengukuran suhu tubuh, dipastikan panitia dan peserta dalam kondisi sehat (tidak lagi demam dan flu).

“Selain itu, harus mengatur jarak dengan benar, tersedia hand sanitizer secara memadai, tempat giat tersedia wastafel yang memadai, dan kapasitas ruangan tidak boleh lebih dari 50 persen,” kata Sutiaji yang didampingi Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko dan Sekkota Malang Wasto. (*)

EDITOR : Agus Prasetyo

Di Posting : 10 June 2020

Berita Serupa

Politik
Bisnis
Olah Raga