DLH Propinsi Jambi Timba Ilmu ke SPMN 10  dan Kampung Proklim Tlogomas Binaan  DLH Kota Malang

Kategori :
Penulis : Doddi Risky
Bagikan :
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on print

Foto : Prokota.com

MALANG PROKOTA.Com – Tak bisa dipungkiri, berbagai prestasi yang diraih DLH Kota Malang menjadi buruan daerah lain baik kota maupun kabupaten untuk belajar terkait keberhasilan pengelolaan dan penanganan sampah.

Buktinya sejak Selasa 25- 28 November 2019, perwakilan dari berbagai daerah all out menimba ilmu ke sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Kota Malang  penyandang Anugerah Esco School di Kamboja tahun 2019 dan ke Kampung RW 07 kelurahan Tlogomas kota Malang, penyandang gelar Proklim Utama 2019.

“Kami selama tiga hari sejak hari ini Selasa tanggal 26-28 November 2019 akan menimba ilmu ke SMPN10 penerima Asean Eco School tahun 2019 dari negara Kamboja,blusukkan dan belajar ke kampung Proklim tingkat Utama dari KLHK RI  yakni RW 07 kelurahan Tlogomas kecamatan Lowokwaru Kota Malang, sisa dua hari kami akan belajar ke bidang Kemitraan dan Pengolahan sampah, serta belajar soal Payman Ecosystem Servise (PES) atau imbal jasa pelayanan sungai brantas Malang,” papar kepala DLH Propinsi Jambi dr Evi Frimawaty SPT MSI yang pimpin rombongan studi tiru ke DLH Kota Malang.

Seperti diketahui bahwa November Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang dibanjiri kunjungan kerja dari kota dan kabupaten luar kota Malang tak terkecuali rombongan investor dari Eropah tergelitik untuk investasi ke Bhumi Arema untuk belajar terkait penanganan sampah.

Kasie Pemeliharaan Lingkungan DLH Kota Malang Budi Hariyanto yang secara marathon didapuk menerima kunjungan dari rombongan bidang kebersihan  lingkungan hidup dan pengolahan Limbah B3 kab Paser Propinsi Kalimantan  dan Kota Palembang  untuk studi Tiru ke Bidang Penata Lingkungan DLH Kota Malang .

“Gak salah bila kota dan kabupaten lain diluar Propinsi Jatim studi Tiru ke DLH kota Malang yang bukan rahasia umum lagi tentang prestasi dan keunggulan dalam pengelolaan dan penata lingkungan Hidup  dibanding daerah lain di Indonesia, bahkan pengusaha Mancanegarapun berebut tawarkan produknya ke DLH kota Malang, “ungkap Budi yang mengaku sudah tahunan berada di jajaran Penata Lingkungan DLH kota itu bangga.

Hal senada juga diamini Kasie Pengawasan Amdal lainnya Rudiarso yang tak kenal lelah mendampingi Plt Upt TPA Supit Urang untuk melayani rombongan kunker daerah lain ,” alhamdulilah kami tetap semangat lakukan tugas sesuai tupoksi meski jadwal tiap hari  sangat padat , insha allah berbagi ilmu dipenata Lingkungan Hidup ke daerah lain jadi makin mewujudkan harapan pemerintah menuju Indonesua bersih sampah plastik 2025  makin nyata,” tandasnya sambil terus berikan penjelasan pada rombongan.

Seperti yang diberitakan bahwa All outnya Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang dalam mendulang prestasi sebagai Kota Adipura Kencana ,Kota  Proklim , kota  Adiwiyata maupun kota penyandang Anugerah  kota Penata dan  pengelolah sampah terbaik  Nasional versi  KLHK   tahun lalu itu bukanisapan jempol bila  jadi jujukan  study banding atau tiru maupun sasaran  Investor dalam negeri maupun Mancanegara,bahkan kemarin dikunjungi investor dari Eropah ,

“Sampah menjadi bernilai bila dikelola dengan bijak serta melibatkan semua elemen masyarakat. Pada zaman dahulu, sampah hanya dikumpul, diangkut, lalu dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang akhirnya menumpuk dan berbahaya bagi lingkungan. Namun, kini, komunitas masyarakat peduli sampah terus tumbuh berkembang di berbagai kota dan mampu memanfaatkan sampah melalui prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) sehingga memperoleh manfaat ekonomi sirkular,” timpal Tri Susanto plt kepala TPA .

Tristan menjelaskan, rata-rata produksi sampah per kapita Indonesia pada 2016 sebesar 0,7 kg atau 175.000 ton per hari.

Artinya, dalam satu tahun, masyarakat Indonesia memproduksi sampah sebanyak 64 juta ton. Dari angka tersebut, komposisi sampah plastik pada 2016 mencapai 16%.

“Penggunaan tas belanja ramah lingkungan maupun tumbler/botol minum yang dapat digunakan berulang kali mampu berkontribusi dalam pengurangan sampah plastik. Kini komposisi sampah plastik turun menjadi 15% atau berkurang sebanyak 630.000 ton per tahun. Artinya, Indonesia mampu.

Di Posting : 26 November 2019

Berita Serupa

Politik
Bisnis
Olah Raga