Dugaan Aroma Korupsi Menguat, Sudah Habiskan 35 M Pasar Sumedang Mangkrak

Kategori :
Penulis : Agus Prasetyo
Bagikan :
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on print

Foto : Prokota.com

MALANG PROKOTA.Com – Mengenaskan. Mungkin itulah fakta yang tepat untuk menggambarkan proses pembangunan pasar Sumedang, di Kepanjen Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sebab saat ini kondisinya mangkrak dan kumuh.

Maklum, versi pedagang pembangunan Pasar Sumedang ini dijanjikan Pemkab Malang diselesaikan dalam dua tahun. Kenyataannya sudah jalan lima tahun masih mangkrak.

Berdasarkan data yang dihimpun Litbang PROKOTA, proses pembangunan Pasar Sumedang sudah menghabiskan anggaran sekitar 35,6 miliar. Pembangunan dimulai sejak 2013 sampai dengan 2018. Terakhir pada 2018 lalu digerojok anggaran 10 miliard.

Bahkan beberapa waktu lalu berdasarkan analisa Malang Corruption Watch (MCW) ada dugaan korupsi dalam proses pembangunan Pasar Sumedang. Ini berdasarkan hasil audit BPK (Badan Pemeriksa Keuangan).

Proses pembangunan pasar Sumedang diawali pada 2013. Pembangunan dilakukan PT TPA.

Pada tahun itu terdapat catatan audit BPK yang menyebutkan pengurangan volume bangunan.

Anehnya PT TPA kembali memenangkan tender dan menggarap proyek Pasar Sumedang pada 2014.

Padahal apabila merujuk pada Kepres nomor 54 soal barang dan jasa, CV atau PT yang masuk dalam audit BPK tidak diizinkan untuk ikut tender lagi. Tapi kenyataannya dalam kasus ini PT TPA malah dimenangkan lagi untuk kedua kalinya.

Jadi dugaannya sangat kuat aroma terjadi permainan antara ULP, dinas terkait dan rekanan sehingga bisa menang tender.

Selanjutnya pada 2015, PT SP menang dalam lelang proyek Pasar Sumedang.

Setelah dilakukan evaluasi, pengerjaannya tidak maksimal. Namun lagi-lagi, pada 2017 PT SP memenangkan tender untuk kedua kalinya juga.

Hasil pantauan jurnalis media ini, meski sudah menghabiskan anggaran puluhan milliar kondisi memprihatinkan. Pembangunan masih dalam tahap pengecoran dua lantai. Lokasi bangunan juga ditutup seng dicat berwarna orange.

Nah dampak dari mangkraknya Pasar Sumedang berimbas pada sepinya pendapatan pedagang Pasar Sumedang. “Yo mesti sepi mas. Pasare koyok ngene kondisine. Isik mangkrak gak jelas kapan marine (Pasarnya seperti ini kondisinya. masih mangkrak gak jelas kapan selesainya),” ujar salah satu pedagang Pasar Sumedang yang minta namanya tidak dipublishkan.

Biasanya dari hasil penjualan di Pasar Sumedang dirinya bisa mendapatkan penghasilan rata rata 75 ribu sampai 100 ribu. Dengan situasi mangkrak sekarang ini untuk mendapatkan penghasilan 25 ribu per hari sangat susah. “Wis pokoke nemen mas mudune (Sudah pokoknya parah mas turunnya),” tutur perempuan paro baya ini dengan wajah polos ini.

Direktur LSM SETARA Asep Suriaman mengatakan dugaan kuat aromasi korupsi memang menguat dalam proses pembangunan Pasar Sumedang. Indikator utama diawal pembangunan sudah ada catatan dari audit BPK. Kedua, terdapat rekanan yang memenangkan tender dua kali. “Dugaan kami kalau tidak ada by design kok sulit ya untuk menang tender dua kali,” kata pria yang konsen mengkritisi pelayanan publik di Kabupaten Malang ini.

Apalagi hasil pantauan di lapangan, lanjut Asep kondisi fisik pembangunan kelihatannya tidak sebanding dengan uang yang sudah dikeluarkan dari APBD. “Ya masa sudah keluar anggaran 35 miliar cuma jadi cor tiang pondasi dan dak lantai. Kami akan undang pakar ahli tekhni sipil untuk menghitung berapa riilnya anggaran sehingga bisa kalkulasi. Ini menyangkut uang rakyat soalnya,” tandas Asep. (*)

Di Posting : 25 August 2019

Berita Serupa

Politik
Bisnis
Olah Raga