Pegawai RSUD Kanjuruhan Resah, Kirim Petisi ke Bupati Malang Terkait Mutasi Direktur

Kategori :
Penulis : Ilyasi
Bagikan :
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on print

Foto : Prokota.com

MALANG PROKOTA. Com – Keputusan Plt Bupati Malang H.M Sanusi yang menggeser Direktur RSUD Kanjuruhan drg Mahendrajaya ke staf ahli membuat resah pegawai RSUD Kanjuruhan.

Bahkan untuk menunjukkan keresahan itu, karyawan karyawati sempet membikinkan tulisan yang lagi viral di sosmed.

Adapun tulisannya “Kami karyawan karyawati RSUD Kanjuruhan Kepanjen turut berduka atas tergusurnya direktur yang dicintai karyawan karyawatinya….”

Terkait hal itu, wartawan media ini mencoba menelusuri ke beberapa pegawai RSUD Kanjuruhan. Dan ternyata mereka membenarkan soal keluhan tersebut.

Bahkan, sebelum dilakukan mutasi pada Jumat (31/5/2019) pegawai RSUD Kanjuruhan sudah melayangkan petisi ke HM. Sanusi terkait keberatan posisi Mahendrajaya digeser.

Di petisi itu hampir 80 persen diteken karyawan karyawati RSUD Kanjuruhan. Termasuk sekitar 100 dokter. Namun demikian, pelayanan di RSUD Kanjuruhan tetap berjalan normal.

Sayangnya petisi itu sepertinya tidak sampai ke tangan Sanusi secara langsung.

Banyak pertimbangan yang membuat para pegawai merasa berat jika Mahendrajaya dipindah. Sebab selama dipimpin Mahendrajaya banyak perubahan yang signifikan di internal RSUD Kanjuruhan. Mulai dari sistem, peralatan sampai dengan standart pelayanan.

Apalagi, yang terbaru RSUD Kanjuruhan berhasil meraih sertifikat akreditasi rumah sakit yang dikeluarkan Komisi Akreditasi Rumah Sakit. “Persiapan mepet. sekitar dua bulan. Tapi berkat kepiawaian pimpinan (Mahendrajaya) mampu meraih prestasi luar biasa berupa akreditasi paripurna atau bintang lima,” ujar salah satu pegawai yang mewanti-wanti namanya tidak dipublish ini.

Selain prestasi itu, Mahendrajaya juga membikin gagasan “Hospital For Humanity” menyongsong RSUD Kanjuruhan reborn 2020 yang ternyata didukung penuh semua karyawan dan karyawati RSUD Kanjuruhan.

Sebab dengan program itu, diimbangi dengan peningkatan sarana dan prasarana sebagai penunjang utama dalam memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. “Perubahan sudah sangat tampak pesat, sayang pimpinan kami kok diganti. Mohon pak Bupati bisa mengkaji ulang lagi. Sebab tidak mudah untuk mendapatkan pimpinan yang care dan visioner untuk RSUD,” kata perawat yang lainnya.

Seiring dengan pergantian itu, pegawai RSUD hanya bisa pasrah.

Terlebih lagi, rata-rata pegawai RSUD Kanjuruhan sudah mengetahui track record pengganti dr. Abdurrahman yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Kadinkes dan muncul kasus OTT dana kapitasi di UPT Puskesmas Karangploso. Hingga akhirnya pria yang akrab dipanggil Abah Dur itu dikotak Bupati Malang Rendra Kresna sebagai staf ahli. “Ya kami tidak tahu lagi kelanjutannya,” kata dia.

Sementara itu, Mahendrajaya ketika dikonfirmasi PROKOTA.com tidak mengetahui adanya petisi yang dilakukan pegawainya.

Namun demikian, pria yang akrab dipanggil dr Jaya ini mengaku tidak mempersoalkan terkait mutasi. Sebab dirinya menyadari itu mutlak kebijakan pimpinan. “Saya ditempatkan di manapun akan loyal kepada pimpinan (Bupati,Red),” kata mantan direktur RSUD Lawang ini.

Hanya saja, Jaya membenarkan banyak program yang baru kedepan yang belum tuntas dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Salah satunya Hospital For Humanity (Rumah sakit untuk kemanusiaan) menyongsong RSUD Kanjuruhan reborn 2020.

Sementara itu, Abdurrahman hingga berita ini tayang belum bisa dikonfirmasi.(*)

Di Posting : 2 June 2019

Berita Serupa

Politik
Bisnis
Olah Raga