Geger SMPN 4 Kepanjen : Ini Alasan Kasek Suburyanto Memberhentikan Komite Sekolah

Kategori :
Penulis : Ilyasi
Bagikan :
Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on whatsapp
Share on telegram
Share on print

PROKOTA, MALANG – Kasek SMPN 4 Kepanjen, Suburyanto akhirnya angkat bicara soal konflik dengan komite sekolah. Suburyanto menampik dirinya bersikap arogansi terkait dengan pemecatan sepihak komite sekolah. “Tidak benar jika saya bersikap arogan,” ujar Suburyanto ketika ditemui PROKOTA.COM di SMPN 4 Kepanjen Sabtu(3/3/2018)

Pria yang akrab dipanggil Subur itu mengatakan, pihaknya punya dasar kuat untuk memberhentikan komite sekolah. Dasar kuat lantaran dirinya mendapatkan desakan dari wali murid untuk mengganti komite sekolah.

Ini dibuktikan dengan penandatanganan daftar hadir perwakilan wali murid sebanyak 25 orang. “Jadi tanda tangan wali murid ini dasar kami mengganti komite sekolah yang lama dan mengangkat komite sekolah yang baru,” kata mantan kepala SMPN 1 Pakisaji ini sambil menunjukkan secarik kertas yang berisi tanda tangan 25 wali murid.

Disisi lain, kata Subur, pihaknya mengakui tidak sinergi dengan komite sekolah yang lama yang di ketuai Sugijanto Basuki. Meski udah pernah koordinasi sebanyak tiga kali.

Ini terlihat terkait dengan mekanisme pembayaran uang pembangunan dua ruang kelas yang menggunakan uang dari Bank Muamalat senilai Rp 600 juta, dengan menggadaikan sertifikat rumahnya di wagir.

Subur mengaku waktu itu penambahan dua ruang kelas menjadi kebutuhan untuk meningkatkan jam mengajar para guru yang harus mencapai 48 jam di era RSBI di SMPN 4 Kepanjen.

Subur bersedia menggadaikan sertifikat rumahnya lantaran tiap tahun pada saat penerimaan siswa baru mendapatkan dana segar sebesar Rp 900 juta. “Harapan saya nanti uang pinjaman tersebut bisa diganti pada saat penerimaan siswa baru. Tapi saya keburu dipindah ke SMPN 1 Ngajum,” kata Subur.

Namun dari pinjaman Rp 600 juta, lanjut Subur, sebelum dirinya dipindah sudah dicicil sebanyak 7 kali. Sekali bayar cicilan sebanyak Rp 3 juta. “Jadi kurangnya masih banyak. Makanya ketika saya dikembalikan ke sini (SMPN 4 Kepanjen) tentunya wajar tanggungan saya itu bisa diselesaikan. Karena pinjaman itu berbunga,” tutur Subur.

Setelah koordinasi dengan komite sekolah, Subur menginginkan tanggungan itu bisa langsung dilunasi segera oleh komite sekolah. Akan tetapi komite sekolah menolak jika harus dilunasi semuanya karena juga ada beban pembayaran gedung baru yang dibangun era kepala sekolah Rahmad senilai Rp 1 Miliar lebih. “Wajar dong jika hutang yang lama diselesaikan dulu. Tapi komite sekolah ndak mau kalau langsung tapi bertahap,” kata dia.

Disinggung soal agenda wisata guru ke Lombok, Subur mengakui program itu pernah disampaikan ke komite sekolah. Alasannya, dirinya menjanjikan kepada para guru untuk bisa rekreasi ke Lombok dengan catatan para guru harus kerja keras untuk menjadikan SMPN 4 meraih prestasi di level Jatim. “Maksud saya untuk memacu agar para guru bekerja maksimal agar sekolah ini prestasi. Terus saya ganti kerja keras mereka dengan mengajak mereka berlibur ke Lombok. Tapi komite juga menolak,” kata dia.

Berdasarkan itu semua, Subur akhirnya mengambil keputusan untuk menggangi komite yang baru. Dengan harapan dirinya bisa bersinergi untuk membawa kemajuan SMPN 4 Kepanjen. “Kepala sekolah dan komite sekolah ibarat suami istri. Kalau tidak sejalan ya dengan berat kami ganti yang baru. Toh itu juga keinginan mereka yang siap diresufle,” pungkasnya.

Terpisah, salah satu wali murid Yubi Anwar mengatakan pergantian komite sekolah yang baru karena diinginkan para wali murid dengan harapan sekolah bisa berpretasi. “Harapan kami komite yang baru bisa membawa kemajuan bagi sekolah anak kami yang sudah kelas tiga,” kata dia. (Red)

Di Posting : 3 March 2018

Berita Serupa

Politik
Bisnis
Olah Raga