Wawali : Pasar Payung Kutho Malang Terwujud Di Tengah Pandemi untuk Penuhi Kerinduan Wisatawan Meski Prokes

MALANG PROKOTA.Com – Di mata Wakil Walikota Malang , Sofyan Edi Jarwoko ide Kabunga grup angkat karya seniman payung dengan membuka Pasar Payung Kutho Malang tersebut sangat Luar biasa aksi seniman sepuh Mbah Sarimun yang dikenal sebagai maestro payung Nasional yang sudah go internasional, meski waktunya hanya seminggu sekali dengan waktu buja ganya 5 jam.

“Terus bergerak demi bangkitnya ekonomi rakyat sekaligus ikuti program pemerintah dengan adanya PPKM Mikro, terbatas waktu dan tetap protokol kesehatan, semoga pasar payung kutho malang yang dibuka ditengah pandemi covid – 19 ini bisa memenuhi dahaga wisatawan domestik maupun manca meski terbatas, in sya allah terwujud, dan akan lebih panjang dan luas waktu setekah pandemi berlalu,” papar Sofyan Edi berharap.

Masih ingat ketika Mbah Rasimun, sang maestro payung nasional asal Kelurahan Pandanwangi Kec Blimbing Kota Malang itu merasa sangat tersanjung saat Wakil Walikota Ir Sofyan Edi Jarwoko hadiri pembukaan pameran budaya negeri di pelataran Dewan kesenian Malang( DKM), Mbah Rasimun yang membawa puluhan payung fashionable itu punya harapan dapat dukungan dari Pemerintah Kota Malang khususnya dan umumnya Propinsi Jawa Timur. selain bakal meramaikan seni payung, sekaligus motivasi seniman tari payung yang bakal rebut perhatian di Kota Batik, Solo awal Desember 2020 yang lalu telah terwujud meraih jawara.

“Payung seni menjadi pengingat agar warga bhumi arema ikut memelihara peninggalan nenek moyang, bukan saja jadi tetenger semata ,tapi diharapkan membumi karya payung mbah Mun hingga menular ke generasi muda bhumi arema.” papar Sofyed.

Sofyan Edi Jarwoko Politisi asal Partai Golkar Kota Malang tersebut mengapresiasi pameran payung Mbah Rasimun. Pameran dihelat di Dewan Kesenian Malang (DKM), Kamis (19/11) sebagai wujud keanekaragaman seni budaya Indonesia,” mari kita pelihara dan jaga sekaligus jadi ajang motivasi para maestro seni budaya dorong kreativitas anak muda untuk terus berkesenian, jangan sampai ribut setelah negara tetangga mengakuinya artinya dijaga karya tersebut dengan baik dan punya hak paten atau HAKI,” tutur Edi berharap.

Pasar payung kutho Malang karya payung Mbah Rasimun yang dibuka tuap gari Sabtu buat pemburu karya natural asli Payung buatan Mbah Mun itu menarik Wawali untuk beri manseniman sepuh berumur 96 tahun itu sekaligus jadi ajang reuninya para seniman antar usia.

“Gelar seni ini luar biasa sambut pameran dan kompetisi mempersiapkan 100 payung untuk ikuti kompetisi di Solo lalu dengan membawa pengalaman yang luar biasa itu difollow up dengan dibukanya pasar payung kutho malang di rumah mbah Sarimun luar biasa, akan jadi destinasi wisata yang natural bila kampung payung payung punya jadwal dengan adanya pasar oayung neski ganta seminggu sekali. Misal tiap sabtu mulai jam sekian hingga sampai jam yang ditentukan karena ikuti protokol kesehatan, ya paling tidak bisa memenuhi dahaga warga bumi arema maupun wisatawan domestik maupun manca dengan menikmati karya maestro payung mbah Mun dengan melihat langsung aksi beliau sekaligus bisa bawa buah tangan dengan membeli karyanya, yang secara otomatis menghargai karya maestro payung asal bumi Arema tabg sudah dikenal hingga mancanegara” pungkas Edi yakin. (dr/rud)