Walikota bersama DLH Getol Perangi Sampah Plastik, KemenPUPR Hibahkan 5 Mesin Pencacah Plastik Plus Genset

MALANG PROKOTA.com – Penghargaan Nasional RW 07 Kelurahan Tlogomas sebagai kampung Proklimbinaan DLH kota Malang serta mengantar Walikota Malang H Sutiaji sebagai pembina utama menerima penghargaan dari Gubernur Jatim Indar Parawansah ahad lalu memantapkan politisi asal Demokrat tersebut menerima hibah 5 mesin pencacah plastik dari KemenPUPR .

Menurut sekretaris DLH Lilis Furqoniah Hayati kalau Walikota mendapat hibah mesin pencacah plastik setelah DLH menerima surat dari KemenPUPR,

“dapat lima mesin pencacah plastik plus gensetnya juga lima , kemarin surat persetujuan dari Walikota sudah di tanda tangani besok staf TPA akan mengambilnta setelah penyerahan dariPuPR propinsi Jatim,”paparnya singkat.

Seperti diketahui bahwa Wali Kota Malang Sutiaji di Malang, Jumat 29/11 mengemukakan saat ini produksi sampah domestik maupun industri di Kota Malang rata-rata mencapai lebih dari 500 ton per hari.

“Mendatang harus bisa kita kurangi dengan berbagai cara, paling tidak bisa turun menjadi 300 atau 400 ton per hari,” diakuinya  sering tak bisa tidur memikirkan sampah.

Lebih jauh ia  menjelaskan, saat ini TPA Supiturang yang memiliki luas sekitar 25 hektare itu kian menyempit karena tumpukan sampah yang kian hari kian bertambah volumenya, sementara Pemkot Malang kesulitan mencari lahan baru sebagai lahan pengelolaan sampah.

Terkait itu, Walikota  mengimbau kepada masyarakat untuk melakukan pedoman 3R (Reduce, Reuse, Recycle) guna meminimalisasi sampah terutama di lingkungan warga dan di tempat pembuangan sementara (TPS).

“Upaya 3R ini akan kita coba terapkan sambil edukasi ke masyarakat, mulai dari rumah agar di TPA Supiturang ini tidak over. Paling tidak dari 500 ton per hari menjadi 300-400 ton,” tegasnya.

Sutiaji mengemukakan bagaimana pengelolaan sampah yang sudah dimulai dengan memilah sampah dan diolah di Bank Sampah Malang (BSM) ini bisa semakin maksimal agar mampu menekan volume sampah yang dibuang ke TPA Supiturang, bahkan sampah menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis, bukan menjadi sesuatu yang menakutkan.

Petlu diketahui bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini, sebagian sampah organik di BSM diolah menjadi pupuk kompos dengan rata-rata sampah yang diolah mencapai 35 ton per hari.

Hanya saja, sampah anorganik seperti plastik masih menjadi persoalan tersendiri dan cukup serius, bahkan menurut Sutiaji, TPA Supiturang sudah mengalami darurat sampah plastik.

“Insya allah bantuan pemerintah dengan hibahkan mesin pencacah plastik segera terwujud dan bisa menjawab masalah darurat sampah plastik” tandasnya berharap.(*)