UKT Mencekik, Ribuan Maba Duduki Halaman Rektorat UIN Maliki

MALANG PROKOTA.com – Nampaknya sudah habis kesabaran ribuan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki hingga duduki halaman Rektorat menggelar aksi demonstrasi menuntut pihak kampus menurunkan biaya UKT (uang kuliah tunggal), di depan Rektorat, Jumat (16/8/2019).

Hingga 15.30 tak juga ditemui Rektor hanya ditemui Wakil Rektor 3 sehingga membuat massa aksi terus merangsek ke gedung Rektorat yang dijaga puluhan satpam terlihat menjaga para pengunjuk rasa yang menginginkan dialog dengan rektor.

Menurut korlap Aksi, Arifan Maulana mangatakan bahwa akses terhadap pendidikan tinggi seharusnya bisa dinikmati semua kalangan dengan berbagai latar belakang sosial ekonomi. Bukan malah dikomersialisasi dengan berbagai sistem kebijakan pemasukan dana.

Perlu diketahui, bahwa dasar aksi puluhan ribu mahasiswa UIN Maliki yang berasal dari berbagai daerah di tanah air itu garagar setiap mahasiswa baru tahun akademik 2019/2020 harus membayar dua macam biaya. Yaitu Uang Kuliah Tunggal (UKT) dengan besaran antara Rp 400 ribu hingga Rp 10 juta (terbagi atas grade 1 hingga 7) dan biaya pengembangan kelembagaan dan Ma’had pendidikan  sebesar Rp 7,5 juta.

“Padahal, biaya yang sedemikian besar juga tidak sebanding dengan kualitas yang diperoleh mahasiswa,” jelasnya lantang.

Maka dari itu, para peserta aksi ini menuntut:

1. Melakukan publikasi atau mensosialisasikan secara rinci dan menyeluruh perhitungan unit  cost sehingga muncul biaya UKT dan biaya Pendidikan Ma’had.
2. Banding UKT dapat dilakukan pada setiap semester dan keputusan banding tersebut akan digunakan untuk pembayaran UKT semester selanjutnya.
3. Penggolongan UKT Mahasiswa baru jalur mandiri yang tidak merata.
4. Menghentikan membebankan biaya-biaya pengembangan kelembagaan berupa penambahan ruang kelas baru, biaya langganan listrik, belanja langganan telepon, biaya akses sistem informasi, biaya langganan air, dan pengadaan kursi ruang kelas baru terhadap mahasiswa, kemudian mencari sumber pendanaan yang lain.
5. Menuntut komitmen kampus untuk memberikan pendidikan yang berkualitas tapi murah untuk mahasiswa dari kalangan ekonomi menengah kebawah.(*)