Soal Tudingan Menahan Ijasah, Ini Pengakuan Mantan Kasek SMPN 4 Kepanjen, Rahmad

PROKOTA, MALANG – Merasa dipojokkan karena dianggap melakukan penahanan ijasah dan rapot, mantan Kasek SMPN 4 Kepanjen Drs Rahmad, M.Si akhirnya angkat bicara.

Pria yang kini menjabat sebagai kepala sekolah di SMPN 1 Bululawang mengelak semua tudingan adanya penahanan ijasah dan rapot di SMPN 4 Kepanjen. “Terkait adanya penahanan ijasah di era kepimpinan saya di SMPN 4 Kepanjen, itu salah persepsi,” ujar Rahmad ketika dikonfirmasi PROKOTA, Jumat (9/3/2018).

Rahmad berdalih dirinya tidak bermaksud menahan ijasah siswanya yang sudah lulus. Namun pihaknya memang sengaja melarang pengambilan ijasah yang tidak dilakukan oleh siswa yang bersangkutan.

Jadi, kata Rahmad, persoaalan ini masalah administrasi, karena pengambilan ijasah tidak bisa diwakilkan. Alias siswa itu sendiri yang mengambil. Mengingat harus ada cap tiga jari dan tangan tangan di buku induk.

Akan tetapi, faktanya selama ini banyak siswa belum mengambil ijasah lantaran belum melakukan cap tiga jari untuk kelengkapan administrasi.

Disinggung adanya siswa yang belum lunas SPP dan sumbangan sekolah tidak boleh mengambil rapot, Rahmad mengaku persoalan itu urusannya dengan panitia sekolah dan komite sekolah. “Jadi tidak benar ada penahanan ijasah karena masalah biaya. Justru saya pribadi ingin memberikan ijasah tersebut meskipun siswa yang bersangkutan belum membayar. Tapi, jika untuk masalah administrasi memang tidak bisa diwakilkan, sekali lagi kita bukan menahan ijasah karena masalah pembayaran,” kata Rahmad.

Lantas bagaimana dengan Suburiyanto yang menganggap Rahmad mempunyai hutang sebesar Rp 600 juta, Rahmad menilai tudingan itu kurang pas. Sebab pembangunan sekolah sekarang ini belum selesai seluruhnya. Jadi wajar dana yang ada di komite sekolah dibutuhkan untuk menyelesaikan pembangunan sekolah tersebut.

Terkait hubungan yang memanas dengan Suburiyanto, Rahmad enggan berkomentar.(*)