Pengangguran Capai 100 Ribu Orang, Ini Solusi yang Ditawarkan Pasangan SAE

PROKOTA, MALANG – Pasangan Calon Aali Kota dan Calon Wakil Wali Kota Malang yang mengusung jargon SAE Sutiaji dan Sofyan Edi Jarwoko melihat Kota Malang mengalami empat masalah ekonomi.  Problem ekonomi membutuhkan penanganan bersama pihak terkait baik Pemerintah Kota maupun DPRD.

Permasalahan itu tak lain kemiskinan, pengangguran, izin usaha dan juga tata ruang pedagang kaki lima ( PKL).

Sutiaji mengungkapkan, jumlah pengangguran di Kota Malang sampai akhir tahun 2017 tercatat lebih dari 100.000 orang. 25 persen dari jumlah mereka berusia produktif.

Usia produktif penduduk adalah mereka yang berusia 20 – 59 tahun. Kondisi tersebut diperberat dengan hadirnya sekitar 300.000 pendatang baru yang di antaranya pekerja musiman pada sektor konstruksi, akomodasi, dan makanan.

Fakat ini, membuat Sutiaji- Sofyan Edy yang merupakan cawali-cawawali nomer urut 3, ini mencanangkan program Tri Prasetya.

Melalui program itu, potensi menyerap tenaga kerja, meningkatkan pertumbuhan ekonomi, meningkatkan keterampilan dan daya saing produk dan jasa, serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. “Program unggulan yang kami tawarkan Tri Prasetya,” ujar Sutiaji kepada PROKOTA. COM di rumah pemenangan.

Untuk merealisasikan hal itu, kata Suriaji, menawarkan empat strategi perubahan bagi perekonomian di Kota Malang.

Yang pertama, mengintegrasikan program-program Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Misalnya dalam program ekspor-impor. Untuk mendukung program ekspor, impor dan investasi, perlu dilakukan peninjauan kembali regulasi dan kebijakan pemerintah kota yang selama ini dianggap memperlambat atau bahkan menghambat usaha.

Kedua, menyediakan ruang promosi dan pemasaran terintegrasi untuk produk kuliner, seni, kerajinan, baik berupa pasar seni maupun ruang eksibisi atau pameran.

Penataan kembali tata ruang wilayah perlu dilakukan secara komprehensif, dengan tetap mempertimbangkan daya dukung lingkungan di sekitarnya.

Baik menata permukiman padat penduduk, maupun menata usaha perdagangan berdasarkan zonasi jenis dan sifat produk barang dan jasa yang diperdagangkan.

Ketiga, menyediakan pasar Online dan konvensional di bawah pengelolaan pemerintah kota dengan cara mengadaptasi perkembangan teknologi kreatif yang pesat di kalangan kaum muda, sub sektor aplikasi dan games akan mendapat ruang yang lebih bebas untuk dikembangkan.

Saat ini di kota Malang terdapat 2.200 tenaga kerja dari 4.800 lulusan akademik yang terserap dalam industri kreatif berbasis aplikasi dan games.

Keempat, membangun pasar-pasar murah yang terjangkau kalangan mahasiswa maupun pelajar. Serta meningkatkan mutu dari para lulusan agar bisa lebih bersaing mengikuti perubahan zaman.

Mengingat, gairah terjun ke dunia kreatif ini dipredikisi bakal tumbuh sebanyak 20 persen per tahun. Itu tampak pada sektor industri kunliner, animasi, film dan video yang saat ini sedang naik daun.
“Membuka peluang penyerapan tenaga kerja terampil dan terdidik baik dari perguruan tinggi maupun dari sekolah kejuruan wajib diciptakan pemerintah,” tandas Sutiaji. (*)