Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami di Malang

MALANG PROKOTA.Com – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang menggelar webinar bertema Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami di Malang, pada Selasa, 30 Maret 2021. Program ini sebagai upaya edukasi terhadap publik agar terlibat dalam mitigasi bencana.

Webinar yang bekerjasama dengan Google News Initiative ini menghadirkan tiga narasumber berkompeten. Yakni Kepala Stasiun Geofisika Karangkates, Ma’muri, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, serta Geologis Merdeka, Andang Bachtiar.

“Media dan masyarakat perlu terlibat dalam mitigasi bencana. Karena bencana berupa gempa bumi selalu terjadi di Malang,” kata Ketua AJI Malang, Mohammad Zainuddin.

Gempa bumi dapat terjadi setiap saat, baik yang terekam alat seismograf maupun yang tak terekam. Karena itu, penting bagi semua pihak terlibat dalam mitigasi ini. Webinar ini diikuti sekitar 150 peserta baik media, aktivis lingkungan maupun masyarakat umum.

Data BPBD Kabupaten Malang menunjukkan, hampir semua kawasan di Kabupaten Malang rawan bencana. Pesisir selatan Malang termasuk paling rawan terjadi gempa dan tsunami.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan mengatakan bencana di Kabupaten Malang pada 2021 meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Tercatat ada 151 bencana di Kabupaten Malang selama tahun 2020. Sedangkan bencana yang tercatat selama tahun ini sampai Maret 2021, tercatat sudah mencapai 122 bencana.

“Sedangkan bencana gempa yang tercatat selama tahun 2021 sebanyak tujuh kali,” kata Sadono saat memaparkan materi dalam webinar itu.

Bencana gempa disertai tsunami mengancam kawasan di pesisir selatan Kabupaten Malang.

“Mulai Kecamatan Donomulyo, Bantur, Gedangan, Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo sampai Ampergading berpotensi tsunami,” tambahnya.

Kepala Stasiun Geofisika BMKG Karangkates, Ma’Muri mengungkapkan ancaman tsunami di Kabupaten Malang tidak hanya berasal dari titik di Kabupaten Malang.

Ma’muri mencontohkan tsunami yang terjadi pada tahun 1994. Tsunami setinggi 13,9 meter tersebut berasal dari titik di Banyuwangi. Tapi dampaknya terasa sampai di Kabupaten Malang. Bencana ini mengakibatkan 250 orang meninggal.

“Kami sudah survei, terutama di Pacitan dan Banyuwangi, untuk melihat perkiraan gelombang dan jalur evakuasinya,” kata Ma’muri dalam webinar bertema Mitigasi Bencana Gempa dan Tsunami di Malang yang digelar AJI Malang.

BMKG mengeluarkan beberapa peringatan dini untuk meminimalisir timbulnya korban akibat bencana tsunami, yaitu informasi gempa yang beroptensi tsunami, estimasi waktu datangnya gelombang, informasi hasil observasi pemutaakhiran status ancaman tsunami, dan pengakhiran peringatan dini.

“Yang paling penting adalah evakuasi mandiri. Masyarakat harus mengenali daerahnya. Kalau merasakan gempa berlangsung lama, segera jauhi daerah pantai,” tambahnya.

Geologist Merdeka, Andang Bachtiar pun mendorong pelibatan masyarakat dalam mitigasi bencana. Andang mencontohkan komunitas pecinta alam.

Menurutnya, pecinta alam biasa mencatat kawasan penting, misalnya bekas tsunami, jalur evakuasi, dan sebagainya.

“Sebenarnya BPBD bisa kerja sama dengan pecinta alam. Dengan anggaran terbatas, pecinta alam sudah bisa jalan,” kata Andang.

Apalagi di era sekarang, hampir semua pecinta alam memiliki media sosial. Ketika menemukan kawasan penting, pecinta alam hana perlu memotret atau memvideo kawasan tersebut, lalu mengunggah di media sosial.

“Jadi pihak lain termasuk BPBD, bisa mengambil data dari pecinta alam yang diunggah pecinta alam yang telah diunggah di media sosial,” imbuhnya. (dr/nul/aji)