MeNaWan Siap Kembalikan Kejayaan Pengrajin Rotan Malang

PROKOTA, MALANG – Di era 1990 an, Kota Malang merupakan barometer pengeksport aneka furnitur berbahan baku rotan. Bahkan ketika itu, pengrajin Malang bisa mengeksport ke Cina dan beberapa negara di Eropa.

Namun itu tinggal kenangan. Karena saat ini Cina dan negara Eropa sudah sangat maju dengan kecanggihan tekhnologi. Sehingga mereka kini sudah bisa produksi sendiri. Sebaliknya pengrajin rotan Malang kini kesulitan menjual produk, lantaran harga produksi tidak menentu akibat harga rotan tidak stabil.

Kondisi itu kemarin terungkap ketika pengrajin rotan di Kelurahan Balearjosari mengeluhkan persaingan bisnis kepada Calon Wakil Wali Kota Malang nomer urut 1, H. Ahmad Wanedi. ” Diera 1990-an, kita sudah ekspor kerajinan rotan seperti kursi ke China dan negara Eropa,” kata Susanto salah satu pengrajin rotan di Balearjosari RW 02 kepada Wanedi.

Akibat sepi, banyak pengeajin rotan yanh beralih profesi. Dulu itu ada 75 pengrajin, namun sekarang tinggal 10 orang

Susanto mengakui, harga bahan baku (rotan) yang terus naik menjadi salah satu alasan warga untuk beralih dari pengrajin rotan. Sebab harga bahan baku tinggi mengakibatkan harga jual produk menjadi tinggi pula. Hal ini yang membuat terkadang kesulitan menjual produk lantaran harga barang sulit dijangkau. Terlebih lagi, pengrajin kesulitan memasarkan produk. “Sekarang situasinya sulit. Bahan bakunya naik, tetapi harganya tetap stabil jadi kita juga kebingungan mau dipasarkan kemana dengan harga yang pas,” paparnya.

Ditambah lagi, Kata Susanto produk rotan buatan warga Balearjosari saat ini sudah kalah dengan produk buatan China dengan bahan sintetis.

Anehnya, selama ini pejabat di Pemkot Malang kurang peka dengan situasi tersebut. Sehingga banyak pengrajin yang gulung tikar. “Terakhir kita diberi pelatihan itu tahun 2000, setelah itu tidak pernah ada pelatihan lagi sampai sekarang,” kata Susanto.

Menanggapi keluhan itu, Wanedi mengatakan jika pasangan MeNaWan diberi amanah menjadi pemimpin di Kota Malang, pihaknya akan berupaya mengembalikan kejayaan para pengrajin rotan seperti pada tahun 1990-an. “Kami akan ikhtiar, Malang sebagai kota pengrajin rotan harus dikembangkan lagi,” janji politisi PDIP ini.

Mengenai masalah harga rotan yang tidak stabil, lanjut Wanedi, timnya secara bersama akan melakukan kajian terkait masalah tersebut. Sehingga kebijakan yang diambil tepat sasaran.

Mengenai kualitas dari kerajinan rotan, Wanedi menegaskan, program pelatihan serta pemberdayaan harus terus dilakukan. Ini diperlukan untuk mengupgrade peningkatan dan kemampuan pengrajin rotan. Terlebih pengrajin sekarang ini harus lebih peka dengan keinginan atau selera pasar. “Pengrajin harus mengikuti model zaman now, jangan hanya berpatokan pada model pembuatan rotan tahun 80-an atau 90-an,” tandas dia. (*)