Melonjak, Pasien Positif Covid 19 di Kabupaten Malang Tembus 72 orang

MALANG PROKOTA.Com – Menjelang berakhirnya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jumlah pasien positif Covid-19 di Kabupaten Malang, Jawa Timur melonjak.

Tak tanggung-tanggung penambahan pasien Covid 19 sebanyak 13 orang pada hari Rabu (27/5/2020). Mereka tersebar di tiga kecamatan.

Seperti diketahui PSBB Malang Raya ini memasuki hari kesepuluh yang dimulai pada hari Minggu (17/5/2020) dan akan berakhir pada Sabtu (30/5/2020).

Kepastian akan adanya lonjakan pasien positif Covid 19 berdasarkan laporan perkembangan pasien Covid-19 di website resmi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang yakni satgascovid19.malangkab.go.id yang terupdate pada hari Rabu (27/5/2020). Adapun jumlah total 72 pasien positif Covid-19. Padahal sebelumnya terkonfirmasi hanya 59 orang.

Sedangkan untuk jumlah ODR (Orang Dalam Resiko) sebanyak 1.450 orang, ODP (Orang Dalam Pemantauan) sebanyak 457 orang, PDP (Pasien Dalam Pengawasan) sebanyak 280 pasien, terkonfirmasi positif 72 orang dengan rincian tujuh pasien dirawat, 25 isolasi mandiri di rumah, lima orang menjalani observasi, 25 orang berhasil sembuh dan 10 orang meninggal dunia.

Aniswaty Aziz selaku Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kadiskominfo) Kabupaten Malang menjelaskan kluster dari 13 pasien tersebut terbagi menjadi dua kluster besar. Yaitu Singosari dan Karangploso.

Detailnya, 5 orang satu keluarga di Karangploso dan sisanya sebanyak 7 orang kluster satu keluarga di Singosari. Dan satu orang dari Lawang.

Terkait penyebab penularan, Aniswaty mengatakan dua kluster keluarga yang tersebar di Kecamatan Karangploso dan Kecamatan Singosari disebabkan tidak mematuhi protokol kesehatan dalam rangka pencegahan Covid-19 yang telah ditetapkan oleh pemerintah. “Sangat disayangkan, semoga kelalaian ini tidak merembet ke daerah lainnya di Kabupaten Malang,” ujar Aniswaty.

Perempuan yang juga merangkap sebagai Humas Satgas Covid 19 Kabupaten Malang ini membeberkan untuk kluster keluarga yang di Kecamatan Karangploso mereka terjangkit dari salah satu anggota keluarga yang telah meninggal dunia.

Hanya saja, saat meninggal dunia, pasien tersebut dalam kondisi perawatan dan hasil dari tes swab belum keluar.

Terlebih lagi, pihak keluarga dari almarhum menolak untuk mekanisme pemakaman menggunakan standar operasional pemakaman pasien positif Covid-19.

Setelah diperantarai oleh pihak Pemerintah Desa, akhirnya pihak keluarga bersedia untuk almarhum dimakamkan dengan menggunakan mekanisme pemakaman Covid-19. “Setelah dimakamkan, hasil tes swab baru keluar bahwa almarhum dinyatakan positif Covid-19. Tapi ya sudah terlanjur terjadi penularan,” beber Aniswaty.

Sedangkan untuk persebaran yang terjadi di kluster keluarga Kecamatan Singosari, lanjut Aniswaty penularan Covid-19 terjadi lantaran satu anggota keluarga tidak menerapkan protokol kesehatan Covid-19 yang telah ditetapkan oleh pemerintah. “Kalau dari awal mereka patuh, kami yakin tidak ada tertular,” tandas dia. (*)

EDITOR : Agus Prasetyo