Lawan COVID-19, Strategi Kunci Kemendag: Amankan Stok dan Tekan Harga Gula Nasional

JAKARTA PROKOTA.Com – Stok menipis telah diantisipasi Kementerian Perdagangan terkait kelangkaan gula pada tahun 2020 akibat menipisnya stok gula di dalam negeri.

Hal itu dibuktikan dengan kebijakan Kemendag membuka kran impor yang diberikan pada  bulan November  2019 kepada empat perusahaan sebesar 160. 440 ton.

“Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum BULOG) melalui anak perusahaannya PT Gendhis Multi Manis (GMM) mendapatkan PI  pada  29 November 2019  dan 13 April 2020 dengan total impor gula sebesar  64.750 ton,” tegas Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Indrasari Wisnu Wardhana dalam rilis yang dikirim  ke media dari Jakarta (24/5/2020).

Tindakan itu sebagai kelanjutan sikap pemerintah sebagai antisipasi kelangkaan gula pada awal tahun 2020.

Lanjut Dirjen Wisnu, lebih jauh Perum BULOG sendiri telah diberi tugas melakukan importasi GKP sebesar 50 ribu ton pada 7 April 2020. BULOG juga mendapatkan persetujuan pengalihan gula dari PT Sumber Mutiara Indah Perdana (SMIP) sebesar 20.000 ton pada 13 Maret 2020.

“Dengan demikian secara keseluruhan Perum BULOG mendapat sebesar 134.750 ton dan telah direalisasikan sebesar 75.350 ton,” kata Wisnu.

Menurut Wisnu, kurangnya pasokan gula kristal putih pada saat ini terutama disebabkan oleh tiga faktor yaitu, pertama produksi gula dalam negeri tahun 2019 yang tidak sesuai dengan perkiraan. Akibatnya  hasil produksi dalam negeri yang seharusnya cukup sampai Maret 2020 ternyata hanya cukup sampai Februari 2020. Hal ini ditandai dengan mulai naiknya harga gula di tingkat konsumen.

Kedua, bergesernya musim giling tebu yang umumnya dimulai April mundur menjadi akhir Juni dan kemungkinan adanya penurunan produksi gula dalam negeri akibat perubahan iklim.

Ketiga, belum maksimalnya realisasi impor oleh pabrik gula berbasis tebu rakyat yang mendapat izin impor karena terjadinya pandemi COVID-19 di beberapa negara asal impor seperti India, Thailand dan Australia.

“Negara-negara tersebut menerapkan lockdown dalam menekan penyebaran corona sehingga mengakibatkan terhambatnya logistik dan transportasi kapal pengangkut serta adanya pengalihan negara asal impor ke negara lain yang dilakukan oleh importir seperti ke Brazil dan beberapa negara di Afrika dengan konsekuensi waktu tempuh untuk importasi yang lebih lama,”tegas Dirjen Daglu.

Oleh karena kondisi tersebut telah menyebabkan terjadinya pergeseran pemasukan impor gula kristal mentah sebagai bahan baku gula kristal putih yang semula diperkirakan pada Maret dan April 2020.  Kenyataannya kegiatan importasi baru mulai masuk secara bertahap pada April sampai dengan Juni 2020.

“ Hal  ini memberikan dampak langsung terhadap pemenuhan gula kristal putih sehingga mengurangi pasokan kepada masyarakat pada bulan-bulan tersebut,” paoarnya.

Lima Kunci Strategis

Guna menekan  laju melonjaknya harga gula hingga sesuai HET, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto membuat lima  langkah kunci strategis yang telah diambil dan akan terus dilakukan Kementerian Perdagangan.

Pertama, mengalihkan gula krital mentah untuk gula rafinasi menjadi gula konsumsi untuk memenuhi kebutuhan pasar sebesar 250.000 ton. Pada saat ini telah dilakukan distribusi sebesar 175.335 ton dengan rincian sebanyak 16.293 ton langsung kepada ritel modern dan sisanya disalurkan langsung ke distributor dan pedagang.

Kedua, meminta produsen dan distributor untuk memutus mata rantai distribusi yang panjang sehingga gula tersebut bisa langsung ke pedagang pasar rakat dan ritel modern. Produsen yang mendapatkan penugasan mengolah gula impor raw sugar menjadi GKP harus menurunkan harga jual kepada distributor maksimal Rp11.200/kg sehingga harga gula bisa disalurkan kepada ritel modern dan pasar rakyat sesuai HET.

Ketiga, memotong rantai distribusi dengan meminta produsen melakukan penyaluran gula langsung ke pedagang di pasar rakyat, selain itu juga akan dilakukan penjualan gula curah tanpa kemasan di ritel modern serta dilakukan monitoring dengan melibatkan Kementerian Perdagangan dan Satgas Pangan agar harga sesuai HET.

Keempat, melakukan operasi pasar gula langsung untuk menurunkan harga secara signifikan. Operasi pasar dilakukan melalui kerjasama dengan produsen dan distributor gula yang menyalurkan gula secara langsung ke pasar dengan harga sesuai HET Rp12.500/kg.  Operasi Pasar ini dilakukan secara serentak di 34 propinsi mulai Minggu ke 3 bulan Mei 2020 dan akan dilakukan setiap hari.
.
Kelima, sebagai implementasi dari pengawasan yang dilakukan, Menteri Perdagangan meminta Direktorat Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga bersama Satgas Pangan terus melakukan penindakan kepada pelaku bisnis atau distributor gula yang nakal karena melakukan penyimpangan distribusi gula.

“Kementerian Perdagangan akan terus melakukan pemantauan dan pengawasan bekerjasama dengan pemerintah daerah dan Assosiasi terhadap waktu pemasukan gula kristal mentah, proses produksi dan distribusi oleh pabrik gula yang mendapatkan penugasan pengalihan dari produsen gula rafinasi menjadi gula konsumsi dan persetujuan impor sehingga dapat mejamin ketersediaan pasokan dan stabilisasi harga gula nasional,” tambah Wisnu mengutip arahan Mendag Agus Suparmanto. (*)

EDITOR : Agus Prasetyo