Kecewa Kekerasan Pada Demontran, Akademisi Orasi Di Depan Patung Hamid Rusdi

MALANG PROKOTA.Com – Sikap Akademisi dan Masyarakat Sipil Malang Raya Atas Kondisi Kota Malang Pasca pengesahan UU Cipta Kerja, masyarakat sipil dibanjiri oleh informasi yang beragam mengenai dokumen yang telah disahkan.

“Hal ini disebabkan karena proses pembentukan UU Cipta Kerja yang terlihat tidak terbuka atau tidak aksesable. Respon atas disahkannya UU Cipta
Kerja memunculkan gerakan penolakan di berbagai daerah, termasuk gerakan penolakan di Kota Malang.

Gerakan penolakan Omnibus Law di Kota Malang terdiri dari berbagai unsur yakni,buruh, mahasiswa, pelajar, kelompok Perempuan dan beberapa kelompok masyarakat lainnya.

Melihat perkembangan saat ini di Kota Malang, maka diperlukan satu perspektif yang sama antara aparatur keamanan dan kelompok masyarakat sipil untuk saling memberikan rasa aman terhadap penyampaian pendapat yang dijamin oleh konstitusi.”ungkap Atah Nursasi dari MCW saat konpres didepan Patung Hamid Rusdi Senin Siang 26/10.

Hal senada juga disampaikan Purnawan D Negara, akademisi asal Universitas Widyagama ini, menambahkan bahwa Kota Malang sebagai salah satu barometer politik di Jawa Timur diperlukan kondusifitas dalam hal penanganan dan perlindungan terhadap penyampaian pendapat atau aspirasi di muka umum.

Keamanan Kota Malang menjadi tanggung jawab penuh kepolisian, tanpa harus menunggu terjadinya gejolak yang berpotensi melahirkan pengrusakan dan kekerasan.

Forum Akademisi dan Masyarakat Sipil Malang Raya menyatakan sikap:” Mendukung penuh setiap warga negara yang menyampaikan pendapat atau aspirasi penolakan terhadap UU Cipta Kerja sesuai dengan norma hukum dan nilai-nilai demokrasi.

Mendukung penuh unsur-unsur yang melakukan kajian ataupun melakukan upaya penolakan melalui jalur konstitusional terhadap UU Cipta Kerja.”papar dosen FH ini tegas.

Sementara itu Lutfi J Kurniawan mengutuk tindakan kekerasan yang terjadi di Kota Malang dan berbagai daerah lainnya di Indonesia yang dilakukan terhadap mahasiswa, buruh, jurnalis, dan kelompok
masyarakat lainnya.

Mengajak setiap warga malang raya untuk menjaga keamanan bersama agar tidak terjadi
kekerasan yang berulang.” tandasnya berharap.

Soal kenapa mengadu pada Patung Hamid Rusdi? jawab aktivus Walhi Jatim ini menilai karena tak ada yang mau atau tepat menerima krluhan atau pengaduan atas fugaan kekerasan ( represif) terhadap demontran yang nenyampaikan prndapat didepan umum,” siapa dan kemana lagi yang nau menerima keluhan dan laporan kami? atas perbuatan yang menimpa kami? ya Patung ini Pahlawan Nasional yang gagah yang betengger di taman di Simpang Balapan,” pungkasnya nyakin.(dr/ nur)