Jelang Pilpres 2019 Mendadak Predikat Ulama jadi “Seksi”. Begini Tanggapan Ketua PBNU KH Robikin Emhas

PROKOTA JAKARTA – Menjelang Pilpres 2019 tensi politik mulai memanas. Terlebih lagi ketika predikat “ulama” menjadi hal yang kini ramai diperbincangkan rakyat Indonesia.

Hal ini bisa dimaklumi lantaran ulama diyakini dalam pilpres bisa mendulang perolehan suara. Maka tak heran jika nama ulama kini seksi karena menjadi rebutan bagi dua kubu yang akan bertarung di polres yakni Jokowi- KH Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga Uno.

Menanggapi hal itu, Ketua PBNU KH Robikin Emhas mempunyai pandangan tersendiri soal ulama.

Robikin mengatakan predikat ‘alim atau ulama dalam sejarahnya tidak lahir dari rekayasa sosial. Terlebih lagi demi kepentingan duniawi berupa pencitraan politik semata.

Sebaliknya, kata Robikin predikat ‘alim atau ulama adalah status sosial. Bukan jabatan politik atau gelar akademik. Mengingat ‘alim atau ulama secara alamiah lahir dari rahim sosial. “Jadi (ulama) bukan dilahirkan atas dasar kesepakatan bersama dalam suatu forum permusyawaratan,” ujar Robikin kepada PROKOTA.Com.

Robikin menegaskan ulama dalam bahasa arab Jama’ atau pluralnya dari kata ‘alim. Artinya ulama adalah orang yang menguasai disiplin ilmu tertentu dan mengamalkan dan mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Dalam perjalanan kebudayaan, predikat alim atau ulama dilekatkan kepada seseorang yang menguasai bidang ilmu agama,” kata alumni PMII ini.

Di sisi lain, kata Robikin secara sosial seorang alim atau ulama itu layak menjadi panutan masyarakat. Mengingat orang tersebut dinilai kredibel dan konsisten dalam mengamalkan ilmu agamanya. Hal itu menjadi kunci yang melekat pada diri seorang alim atau ulama. “Karena itulah tidak semua orang yang menguasai ilmu agama layak disebut ‘alim atau ulama,” kata dia.

Snouck Hurgronje, lanjut Robikin seorang orientalis Belanda dan ahli politik imperialis dikenal sebagai orang yang belajar dan menguasai Alquran. Namun tak siapapun menyebutnya sebagai pribadi yang ‘alim.

Mengapa tidak ada yang menamakan seorang alim atau ulama, karena Snouck Hurgronje tidak mengamalkan ilmu yang dipelajarinya.

Bahkan sebaliknya mempelajari Alquran untuk maksud dan tujuan yang berbeda. Akibatnya tidak bisa menunjukkan adanya konsistensi pada dirinya. “Hal itulah yang membuat dia (Snouck Hurgronje) tak ada masyarakat yang menjadikannya sebagai panutan,” tandas Robikin Emhas. (*)