Habiskan 35 M, IKAPPI Kabupaten Malang Heran Pasar Sumedang Mangkrak, Ada Apa?

MALANG PROKOTA.Com – Mangkraknya Pasar Sumedang di Kepanjen sangat disesalkan Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) Cabang Kabupaten Malang. Karena hal itu sangat merugikan ratusan pedagang yang mencari nafkah di Pasar Sumedang.

Ketua IKAPPI Cabang Kabupaten Malang Agus Sadullah menilai ada kecenderungan Pemkab Malang tak serius ketika memutuskan pembangunan Pasar Sumedang dari pasar tradisional menjadi Pasar Semi Modern. Indikasinya ini terlihat dari lamanya pekerjaan.

Hasil investigasi di lapangan, kata Gus Dullah (panggilan akrabnya) pedagang sempat dijanjikan oleh Pemkab Malang pembangunan Pasar Sumedang akan diselesaikan dalam kurun waktu selama dua tahun.

Namun faktanya, hingga lima tahun Pasar Sumedang tak kunjung ada kejelasan kapan selesai pembangunannya. “Ini kan aneh. Jadi pedagang sangat dirugikan. Pelayanan publik Pemkab buruk,” ujar Gus Dullah kepada jurnalis media online ini.

Terlebih lagi, lanjut Gus Dullah anggaran yang sudah dikeluarkan Pemkab Malang mencapai 35 miliar, namun pada kenyataannya Pasar Sumedang masih mangkrak. “Kami menilai ada yang tidak jelas perencanaannya. Kami sendiri juga heran anggarannya besar tapi kok ndak selesai selesai pembangunannya,. Ada apa?,” kata pri asal Tumpang ini.

Semestinya, sambung Gus Dullah dengan diputuskan memakai dana APBD semestinya pembangunannya lebih cepat. Daripada pekerjaanya dipihak ketigakan.

Gus Dullah menegaskan pihaknya akan turun ke lapangan untuk melakukan investigasi terkait Mangkraknya Pasar Sumedang. Sebab pengaduan yang masuk setiap hari pendapatan Pedagang yang berjualan semakin tidak tentu. “Ingat, ratusan pedagang mencari nafkah disitu (Pasar Sumedang) untuk menghidupi keluarganya. Dzolim pemerintah dan pejabatnya jika mereka diabaikan,” tandas dia.

Untuk itu, IKAPPI Kabupaten Malang berharap dalam proses pembangunan ini mengedepankan kepentingan pedagang. Artinya dalam proses pembangunan harus melibatkan pedagang.

Seperti diberitakan, kondisi Pasar Sumedang mengenaskan. Mungkin itulah fakta yang tepat untuk menggambarkan proses pembangunan pasar Sumedang, di Kepanjen Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sebab saat ini kondisinya mangkrak dan kumuh.

Maklum, versi pedagang Pasar Sumedang ini dijanjikan Pemkab Malang diselesaikan dalam dua tahun. Kenyataannya sudah jalan lima tahun masih mangkrak.

Berdasarkan data yang dihimpun Litbang PROKOTA, proses pembangunan Pasar Sumedang sudah menghabiskan anggaran sekitar 35,6 miliar. Pembangunan dimulai sejak 2013 sampai dengan 2018.

Bahkan beberapa waktu lalu berdasarkan analisa Malang Corruption Watch (MCW) ada dugaan korupsi dalam proses pembangunan Pasar Sumedang. Ini berdasarkan hasil audit BPK (Badan Pemeriksa Keuangan).

Proses pembangunan pasar Sumedang diawali pada 2013. Pembangunan dilakukan PT TPA.

Pada tahun itu terdapat catatan audit BPK yang menyebutkan pengurangan volume bangunan.

Anehnya PT TPA kembali memenangkan tender dan menggarap proyek Pasar Sumedang pada 2014.

Padahal apabila merujuk pada Kepres nomor 54 soal barang dan jasa, CV atau PT yang masuk dalam audit BPK tidak diizinkan untuk ikut tender lagi. Tapi kenyataannya dalam kasus ini PT TPA malah dimenangkan lagi untuk kedua kalinya.

Jadi dugaannya sangat kuat aroma terjadi permainan antara ULP, dinas terkait dan rekanan sehingga bisa menang tender.

Selanjutnya pada 2015, PT SP menang dalam lelang proyek Pasar Sumedang.

Setelah dilakukan evaluasi, pengerjaannya tidak maksimal. Namun lagi-lagi, pada 2017 PT SP memenangkan tender untuk kedua kalinya juga.

Hasil pantauan jurnalis media ini, meski sudah menghabiskan anggaran puluhan milliar kondisi memprihatinkan. Pembangunan masih dalam tahap pengecoran dua lantai. Lokasi bangunan juga ditutup seng dicat berwarna orange.

Nah dampak dari mangkraknya Pasar Sumedang berimbas pada sepinya pendapatan pedagang Pasar Sumedang. “Yo mesti sepi mas. Pasare koyok ngene kondisine. Isik mangkrak gak jelas kapan marine (Pasarnya seperti ini kondisinya. masih mangkrak gak jelas kapan selesainya),” ujar salah satu pedagang Pasar Sumedang yang minta namanya tidak dipublishkan.

Biasanya dari hasil penjualan di Pasar Sumedang dirinya bisa mendapatkan penghasilan rata rata 75 ribu sampai 100 ribu. Dengan situasi mangkrak sekarang ini untuk mendapatkan penghasilan 25 ribu per hari sangat susah. “Wis pokoke nemen mas mudune (Sudah pokoknya parah mas turunnya),” tutur perempuan paro baya ini dengan wajah polos ini.(*)