DLH Optimis Pengolahan Sampah TPA Dengan Sanitary Landfil Bisa Minimalisir Dampak Pencemaran

MALANG PROKOTA.Com – All outnya jajaran Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang untuk mempertahankan anugerah pengelolaan dan pemanfaatan sampah nampaknya terus digenjot.

Pengelolaan dari hulu sampai ke hilir terus ada peningkatan hingga inovasi  yang pro lingkungan sejak  lingkungan RT -RW , kelurahan lewat rumah PKD dan TPS hingga ke Tempat Pembuangan Akhir.

Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Lilis Furqoniah Hayati mendampingi Kepala DLH kota Malang Rinawati mengatakan jika mulai pemilahan sampah di rmh2 PKD ada 27 titik, termasuk proses pemilahan sampah tdk bau, potret aktifitas itf/tempt pengolahan sampah terpadu hibah dr kemenpupr bisa memproduksi 10 ton/hr kompos.

“Dengan cara sanitary landfill, tidak open dumping spt saat ini sdh berjln dr tpa supit urang dibuka cara lain ya dg alat insenerator kalo tidak salah bisa 4 ton/menit. Jadi hanya butuh wkt 2,5 jam sampah kota mlg tiap hari sudah jadi debu hemat biaya, waktu, tenaga , pikiran, tempat,” kata Lilis.

Perlu diketahui bahwa Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat RI (Kementerian PUPR RI) akan mengembangkan Tempat Pemrosesan Akhir Supit Urang (TPA Supit Urang) di Kota Malang, Provinsi Jawa Timur dari semula menggunakan sistem penimbunan sampah terbuka (open dumping) menjadi sistem sanitary landfill.

Pengoperasian TPA dengan sistem sanitary landfill dinilai akan meminimalisir dampak pencemaran, baik air, tanah, maupun udara sehingga lebih ramah lingkungan.

Menurut Menteri PUPR RI Basuki Hadimuljono, penanganan masalah sampah dapat dilakukan melalui dua aspek. Yakni struktural dengan membangun infrastruktur persampahan dan non struktural seperti mendorong perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat.

“Pembangunan infrastruktur pengolahan sampah skala kawasan dinilai efektif untuk volume sampah yang tidak terlalu besar, sehingga pengurangan sampah dapat dilakukan mulai dari sumbernya. Dukungan pemerintah kabupaten atau kota juga diperlukan terutama dalam penyediaan lahan,” ungkap Menteri PUPR RI kemarin  saat kunjungan ke UB Malang.

Untuk diketahui, pengembangan TPA Supit Urang merupakan kerja sama antara Pemerintah Indonesia melalui Ditjen Cipta Karya Kementerian PUPR RI dengan Pemerintah Jerman dalam Program Emission Reduction in Cities–Solid Waste Management (ERIC-SWM).

Selain Kota Malang, terdapat 3 Kota/Kabupaten lain yang menjadi pilot project dalam program tersebut, yakni Kota Jambi, Kabupaten Sidoarjo, dan Kabupaten Jombang.

Pengembangan sistem sanitary landfill TPA Supit Urang yang dikerjakan Kementerian PUPR RI sejak Juli 2018 itu, ditargetkan selesai awal 2020 dengan anggaran Rp 229 miliar dalam bentuk kontrak tahun jamak (multi years contract) 2018-2020.

TPA ini memiliki kapasitas 953,340 m3 untuk melayani sampah rumah tangga penduduk Kota Malang sebanyak 707.015 jiwa atau setara dengan 400 ton/hari. (*)