DLH Kota Malang Jadi Jujukan Studi Investasi Nasional serta Mancanegara

MALANG PROKOTA.Com – Banyak prestasi yang diraih Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang memberikan dampak positif. Peraih kota Penata dan pengelolah sampah terbaik  Nasional versi KLHK tahun lalu itu kini menjadi jujukan  study banding berbagai pihak.

Bahkan Investor dalam negeri maupun Mancanegara juga ikut mengunjungi sistem pengolahan sampah di DLH. Salah satunya dikunjungi investor dari Eropa. Tepatnya Belanda.

Rombongan pelaku usaha dari Negeri kincir Angin  tersebut datang ke Kota Malang akan melakukan investasi.

Sebenarnya rombongan Belanda ini sudah keliling ke seluruh Jawa Timur. Sebelumnya juga ke TPA Benowo Surabaya.

Mereka mempunyai beberapa keahlian dan jualan produk antara lain, truk Pengangkut sampah yang standarnya bagus.

Mesin yang berteknologi Pemilahan Sampah dengan bagus. Yang dapat memilah sampah organik dan non organik dengan menggunakan tekanan tinggi sekitar 8 bar. Hasilnya, sampah organik didapat dan semakin mudah dijadikan kompos.

Dan lagi, tidak timbul air lindi yg biasanya selalu menjadi sumber pencemar air. Yang anorganik dapat digunakan sebagai bahan bakar kilang atau tungku bakar pada industri semen.

Karena kualitas bahan bakarnya mempunyai kalor yg cukup tinggi. Jadi secara prinsip, sampahnya tidak membuang.

“Ada juga yang jualan Incinerator (mesin pembakar sampah) dan diklaim sebaig incinerator yang sangat efisien dengan tingkat efisiensi mencapai 3 kali lipat dari standar. Sehingga, mendapat pengakuan sebagai yang terbaik di Eropa dan sebagainya.” Ungkap Plt Upt TPA DLH Kota Malang Tri Santoso.SSI.MAP .MIDS saat mewakili kepala DLH Kota Malang Dra Rinawati.MM menyambut para investor di Balaikota kemarin.

Lanjut Kasie Penataan Lingkungan DLH kota Malang tersebut lebih jauh mengatakan kalau Mereka lagi melihat l dengan melalui kajian terhadap potensi yang ada. Apakah layak secara ekonomis atau tidak.

Sementara Sekda Kota Malang Wasto.SH MH menyampaikan investor asal Belanda itu untuk melakukan kajian dan boleh disampaikan ke Pemkot terkait hasil kajiannya nanti. ” Namun pemkot tidak mau terikat, dan pemkot tidak punya anggaran untuk hasil kajian yang mengikat, serta pemkot tidak mau menerapkan tipping fee (bayar uang sampah) bagi masyarakat Kota Mlg karena pasti sangat mahal,” tegas mantan kepala DKP itu

Perlu diketahui bahwa sampah  bernilai ekonomis mampu menjadi motor penggerak perekonomian masyarakat. Pemikiran bahwa sampah adalah limbah tidak berguna telah berubah menjadi sampah sebagai sumber berkah.

Pemahaman terhadap keuntungan ekonomi sirkular dari sampah yang semakin berkembang di masyarakat tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (PSLB3) KLHK Rosa Vivien Ratnawati saat meresmikan Pusat Daur Ulang Sampah Kota Malang, beberapa waktu lalu.

“Sampah menjadi bernilai bila dikelola dengan bijak serta melibatkan semua elemen masyarakat. Pada zaman dahulu, sampah hanya dikumpul, diangkut, lalu dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang akhirnya menumpuk dan berbahaya bagi lingkungan. Namun, kini, komunitas masyarakat peduli sampah terus tumbuh berkembang di berbagai kota dan mampu memanfaatkan sampah melalui prinsip 3R (reduce, reuse, recycle) sehingga memperoleh manfaat ekonomi sirkular,” tutur Vivien.

Vivien menjelaskan, rata-rata produksi sampah per kapita Indonesia pada 2016 sebesar 0,7 kg atau 175.000 ton per hari.

Artinya, dalam satu tahun, masyarakat Indonesia memproduksi sampah sebanyak 64 juta ton. Dari angka tersebut, komposisi sampah plastik pada 2016 mencapai 16%.

“Penggunaan tas belanja ramah lingkungan maupun tumbler/botol minum yang dapat digunakan berulang kali mampu berkontribusi dalam pengurangan sampah plastik. Kini komposisi sampah plastik turun menjadi 15% atau berkurang sebanyak 630.000 ton per tahun. Artinya, Indonesia mampu .

Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional (Jastranas) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga mengamanatkan target pengurangan sampah sebesar 30% dan penanganan sampah 70% pada 2025. Kabupaten/kota harus mempunyai perencanaan dan aksi nyata dalam pengurangan dan penanganan sampah melalui kebijakan dan strategi daerah, sehingga terwujud kota layak huni (liveable cities).

Vivien memandang pemerintah daerah harus menemukan cara yang tepat untuk merangkul masyarakat agar semakin peduli terhadap kebersihan di lingkungannya. Dengan demikian, masyarakat dapat menjadi kader lingkungan dalam upaya pengurangan dan penanganan sampah.

Vivien kemudian mencontohkan praktik-praktik sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi timbulan sampah. Pertama, mulai dengan niat tidak membuang sampah sembarangan dan tidak membakar sampah.

Selanjutnya adalah dengan memilah sampah yaitu dengan memisahkan sampah basah dan kering atau sampah organik dan non organik.

Tahap berikutnya adalah mengembangkan kreativitas untuk kemudian memanfaatkan sampah tersebut menjadi barang yang berguna dan memiliki nilai ekonomis yang cukup menjanjikan.

Pusat Daur Ulang (PDU) Sampah Kota Malang didirikan KLHK dalam rangka pengembangan program infrastruktur hijau. Fasilitas daur ulang pengolahan sampah yang dimiliki PDU Kota Malang tergolong skala menengah dengan kapasitas pengolahan 10 ton per hari.

Selain itu, terdapat juga fasilitas pengomposan dengan kapasitas mencapai 10-30 ton per hari. Melalui PDU ini, transportasi sampah ke tempat pemrosesan akhir mampu ditingkatkan efektivitasnya. (*)