Aneh, Lelang Rasa “PL”, Penawaran Turun 4 Persen PT Delima Manunggal Menangkan Tender Proyek Pasar Sumedang untuk Kedua Kalinya Berturut-turut Senilai 12,8 M

MALANG PROKOTA.Com – Upaya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang telah mengobok-obok Pemkab Malang tampaknya tak membuat jera pejabat Kabupaten Malang untuk tidak bermain-main dalam mengelola uang rakyat.

Buktinya pejabat Pemkab Malang diduga kuat masih melakukan cara-cara lama dalam menata proyek besar. Yakni mengondisikan ULP untuk menentukan siapa yang menjadi pemenang tender dalam sebuah proyek besar.

Dugaan kuat terjadi aroma permainan kembali muncul dalam proses tender Pasar Sumedang tahap ke VII tahun 2019.

Indikatornya, proses tender pembangunan Pasar Semi Modern Pasar Sumedang ke VII kembali dimenangkan PT Delima Manunggal.

Padahal PT Delima Manunggal juga menang dan mengerjakan proses pembangunan tahap ke VI pada 2018 lalu.

Namun demikian ada yang terlihat janggal dalam proses lelang tersebut. Mengingat penawaran yang dilakukan PT Delima Manunggal hanya turun 4 persen dari pagu. Jika pagu di APBD 2019, sebesar Rp 13,3 Miliar.

Sedangkan pengajuan penawaran yang dilakukan PT Delima Manunggal hanya turun 4 persen sebesar Rp. 12.889.206.658.

Dikalangan rekanan kontraktor yang selama ini ikut tender lelang di pemerintah daerah, melihat pengajuan penawaran 4 persen dan menang merupakan hal yang mustahil, apabila proses lelang tersebut dilakukan secara fair.

Sebab rata-rata untuk bisa menang dengan cara “fight” minimal penawaran yang diajukan masih diatas 10 persen. “Ya kalau penawaran turun 4 persen dan itu menang itu ibaratnya lelang rasa PL mas,” ujar salah satu rekanan Pemkab Malang yang enggan namanya dipublish ini.

Umumnya, masih kata rekanan Pemkab ini yang sering ikut lelang ini, pemenang tender dengan penawaran dibawah 5 persen ada dugaan kuat sudah disetting untuk dijadikan pemenang.

Caranya beragam, mereka sudah menata dengan melakukan penawaran dengan meminjam beberapa bendera. Biasanya tiga sampai lima bendera.

Lalu mereka melakukan penawaran dengan harga yang bervariasi. Ada yang ditaruh untuk menawar dengan harga murah untuk “ngebom” harga. Akan tetapi bendera CV atau PT yang nanti dimenangkan tetap sudah disiapkan dengan harga yang sekiranya mendapatkan keuntungan yang lumayan besar. “Bukannya menuduh mas. Tapi itu memang pola lama untuk tender bisa menang dengan nawar murah. Setahu saya kok seperti itu caranya,” kata pria yang selama ini sering mengerjakan proyek besar di sejumlah Pemda di Jawa Timur ini.

Koordinator Aliansi Masyarakat Anti Korupsi (AMATI) Malang Romadhony juga menduga kuat masih ada permainan dalam proses lelang di Pasar Sumedang. Mengingat pemenangnya dua kali berturut-turut untuk mengerjakan proses Pasar Sumedang. “Rasanya jika lelang fair kok rasanya susah ya ada pemenang tender dua kali berturut turut. Apalagi nilai penawarannya hanya turun 4 persen,” kata pria yang akrab dipanggil Doni ini.

Anehnya, lanjut Doni, untuk menghindari adanya dugaan masyarakat terjadinya praktek permainan, pejabat Pemkab Malang sekarang ramai-ramai berlindung dibalik tim TP4D dengan melibatkan Kejaksaan Negeri (Kejari) Malang.

Alasannya tentu dalam proyek tersebut diharapkan tidak ada masalah hukum di kemudian hari. Padahal fakta di lapangan penawaran yang dimenangkan PT Delima Manunggal yang turun 4 persen tentunya sangat tidak rasional apabila lelang tersebut benar-benar dijalankan secara fair. “Kami justru curiga kalau TP4D hanya tameng saja untuk mendapatkan legitimasi bahwa sejatinya ada permainan dalam menentukan pemenang lelang tender demi mencari keuntungan beberapa pihak,” kata Doni.

Semestinya lanjut Doni, dalam proses proyek APBD apapun dilakukan secara normal saja untuk menghindari adanya kecurigaan di masyarakat terkait adanya permainan proyek. Indikator yang paling rasional ya tentunya nilai penawarannya yang wajar wajar saja. “Kami yakin jika nilai penawarannya masih dalam tarif wajar, tentunya tidak akan ada yang curiga. Tapi kalau penawarannya turunnya sedikit ya tentunya wajar jika dikatakan adanya praktek permainan. Kan bisa jadi untungnya besar untuk bagi-bagi,” tandas Doni.

Terpisah, Direktur PT Delima Manunggal Sukandar ketika ditemui di kantornya Jalan Danau Tempe F5H/11 Sawojajar Kota Malang membantah apabila ada permainan dalam proses tender Pasar Sumedang tahap ke VII. “Tidak ada permainan, mungkin ini sudah rejeki saya,” kata dia.

Hanya saja, ada kesan yang aneh saat jurnalis media ini ke kantor PT Delima Manunggal. Sebab di kantor berpagar berwarna cat hitam ini tidak ada plakat yang menandai adanya kantor PT Delima Manunggal. Justru plakat berukuran sekitar 1 x 0,8 meter ini ditaruh dibelakang meja di ruang tengah.

Dalam ruangan tersebut tampak tidak terlihat staf atau admin perusahaan. Hanya diatas lemari dan meja terlihat tumpukan dokumen tebal dan beberapa buku.

Ketika ditanya soal itu, Sukandar mengatakan sengaja tidak memasang plakat PT Delima Manunggal tersebut lantaran banyak yang meminta sumbangan. “Kalau saya pasang, yang meminta sumbangan atau donatur dari mana mana mas,” kata pria usia sekitar 50 an lebih ini.

Demikian pula disinggung soal workshop yang umumnya di miliki sebuah CV atau PT yang sudah terbiasa mengerjakan proyek besar, Sukandar juga mengaku tidak punya. Sukandar mengaku soal workshop dirinya bekerjasama dengan rekannya yang ada di Pakisaji apabila mengerjakan sebuah proyek besar.

Sayangnya, hingga berita ini diturunkan belum ada keterangan dari pejabat ULP Pemkab Malang. Dua kali jurnalis media ini berusaha menemui panitia Pokja yang menangani lelang Pasar Sumedang tapi tidak berhasil. (*)