Anak Berkebutuhan Khusus Mempunyai Talenta Terpendam

MALANG Prokota.com – Anak berkebutuhan khusus atau ABK mempunyai talenta-talenta yang terpendam. Ibarat mutiara yang terpendam dalam lumpur, bila digosok dengan baik lama kelamaan akan kelihatan elok atau indah. Begitu pula anak-anak berkebutuhan khusus.

Untuk itu, SBK sejatinya memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Hal ini dinyatakan oleh Kepala Dinas Pendidikan (Kadindik) Kota Malang, Dra Zubaidah MM dalam Rapat Koordinasi Guru Pembimbing Khusus (GPK) yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kota Malang di Aula Dinas Pendidikan belum lama ini.

Untuk  100 orang GPK jenjang SD maupun SMP ia menyatakan, pekerjaan apapun harus dijalani dan ditunaikan dengan ikhlas, penuh tanggung jawab, serta mematuhi aturan yang berlaku. Pun demikian halnya pekerjaan sebagai guru pendamping khusus.

Jangan bekerja atau sekedar menggugurkan kewajiban semata, apalagi karena kasihan pada Anak Berkebutuhan Khusus. Namun jalankan tugas dan fungsi Anda sekalian sebagai GPK dengan dilandaskan pada semangat berbakti sebagai bentuk kesadaran bahwa ABK juga memiliki hak mendapatkan pendidikan yang terbaik,”tegasnya.

Perlu diketahui kalo negara memiliki kewajiban untuk memberikan pelayanan pendidikan yang bermutu kepada setiap warganya tanpa terkecuali termasuk mereka yang memiliki perbedaan dalam kemampuan (difabel) seperti yang tertuang pada UUD 1945 pasal 31 (1).
Harapannya kedepan  agar GPK senantiasa berusaha mengembangkan serta meningkatkan kompetensi diri dengan tiada lelah belajar dan belajar terus agar dapat melaksanakan proses belajar mengajar dengan baik yang pada akhirnya membawa manfaat pada semua pihak utamanya ABK.

Ida sapaan akrab  Kadindik asal Solo itu  juga mengimbau kepada GPK agar tidak segan-segan berkomunikasi ataupun berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Malang manakala menemukan permasalahan dalam menunaikan tugas dan kewajiban sebagai GPK.

Dalam rakor tersebut, juga dipaparkan tata kelola sekolah inklusi serta pembahasan tentang kebijakan-kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendiknas) yang harus dipahami oleh GPK dalam rangka terlaksananya pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus yang sesuai dengan peraturan pemerintah yang disampaikan oleh Dr Ahsan Junaedi Romadhon MPd.

Seorang GPK harus paham dan jeli dalam menilai ABK didikannya. Apakah ABK yang bersangkutan masuk dalam kategori ABK hambatan kecerdasan atau ABK tanpa hambatan kecerdasan, sehingga GPK dapat menyusun strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan hambatan ABK dan pada akhirnya mencapai hasil maksimal sesuai dengan harapan semua pihak,” jelas Ahsan.

Pada kesempatan yang sama, Sahran MPdI selaku Ketua Kelompok Kerja Guru Pendamping Khusus (KKGPK) Kota Malang mengatakan bahwa kegiatan ini sangat membantu GPK dalam rangka semakin memperluas wawasan tentang penanganan Anak Berkebutuhan Khusus.

Seperti bagaimana mendesain kurikulum yang sesuai kemampuan ABK, bagaimana melakukan asesmen yang baik, dan lebih penting dari kegiatan ini adalah bertambahnya informasi GPK tentang peraturan pemerintah yang berhubungan dengan pengelolaan sekolah inklusi,” pungkasnya yakin.

Terpisah Iskandar  kasek SLB Negeri Kedungkandang kota Malang saat ditemui usai pentas seni dan  pelepasan 22 siswa purnawiyata masa didik 2019/2019 mengatakan sangat bersyukur meski dengan sarana dan prasarana yang ada,” Alhamdulilah anak didik kami di SLB Negeri yang hanya di Kota Malang ini bisa lahirkan siswa SLB yang berprestasi tingkat kota, baik seni maupun olahraga. “ungkap Arema Asli Ngawi yang sejak 1983 itu mengabdi di SLB Negeri kedungkandang itu bangga.

Lanjut Iskandar lebih jauh adalah ke depan SLB Negeri yang satu satunya ada di kota Malang itu bisa lebih banyak kagi lahirkan siswa berkebutuhan khusus yang berprestasi hingga tingkat nasional, Untuk bisa
mewujudkan cita cita tersebut kami berharap Pemerintah kota Malang maupun Propinsi Jatim menambah sarana dan prasarana yang utama adalah ruang klas bertambah sesuai tambahnya calon siswa, hingga tahun ini kuota kami hanya 22 siswa jika lebih inden tahun depan karena ruang klasnya terbatas. lalu perlu tambahan serta GPK hingga jumlah ideal.yakni guru satu untuk satu -dua siswa, bukan 3 -5 siswa .kami yakin akan lebih banyak lagi siswa didik berkebutuhan khusus tertampung dan isha allah terentas dan berprestasi tak kalah dengan yang normal,” tandasnya.(*)